Berita UtamaNasional

Seorang Warga Selamat Karena Berpura-pura Mati saat Kerusuhan di Wamena

findonews, JAKARTA – Seorang warga harus berpura-pura mati di tengah kerusuhan di Wamena untuk menyelamatkan nyawanya. Seorang warga tersebut adalah Erizal, 42 tahun perantau asal Minang terpaksa harus pura-pura mati untuk bertahan hidup.

Dilansir CNN Indonesia, istri dan anak Erizal tidak terselamatkan dalam tragedi kerusuhan di Wamena. Erizal menceritakan kisah tragisnya di Kantor ACT SUmbar di Ulak Karang, Padang, Selasa (1/10).

“Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu, namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia,” kata Erizal memulai cerita.

Erizal bercerita, saat terjadi kerusuhan ia sedang berada di sebuah kios tempat kerjanya, ia melihat sejumlah orang mendatangi kios-kios, termasuk tempat ia bekerja.

“Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka,” ujarnya.

Erizal bersam istri, anaknya, dan beberapa orang lainnya berusaha untuk menyelamatkan diri, namun gerombolan orang yang mendatangi kios-kios mengetahui keberadaan mereka dan mendobrak masuk.

“Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati,” katanya.

Erizal behasil selamat karena berpura-pura mati, akan tetapi istri, anak, dan keponakannya meninggal dunia karena ditikam parang oleh perusuh.

“Karena setelah kami ditikam, rumah itu dibakar namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar,” sambungnya.

Ia mencoba meminta bantuan namun nihil, dua jam kemudian bantuan datang dan Erizal segera dibawa ke rumah sakit untuk diobati luka bakarnya oleh pihak medis.

“Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya,” ujarnya.

Erizal memiliki dua orang anak, anak pertama masih hidup karena tengah bersekolah di kampung halamannya, sedangkan istri dan anak keduanya yang iktu merantau ke Wamena tewas.

Erizal sudah merantau di Wamena selama enam tahun untuk menafkahi keluarga, selama tinggal disana hubungannya dengan warga sekitar baik-baik saja.

“Selama enam tahun lebih di sana, hubungan saya dengan penduduk asli Papua baik-baik saja, kami tidak pernah ada konflik apapun,” katanya.

Bahkan saat terjadinya konflik, warga disana turut membantu menyelamatkan keluarganya dari kericuhan. Erizal berharap konfil tersebut dapat segera terselesaikan dan para perantau Minang dapat dipulangkan dari Wamena.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker