Berita UtamaEkonomi & Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat Karena Kehilangan Momentum

findonews, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tercatat lebih rendah pada kuartal kedua tahun ini, menurut Institute fo Development of Economics and Finance (Indef) hal ini disebabkan karena Indonesia kehilangan momentum yang berasal dari peningkatan pengeluaran konsumen, bonus gaji, dan pengiriman uang pekerja migran selama Idul Fitri.

“Indonesia kehilangan momentum untuk meningkatkan ekonominya ketika ada bonus gaji dan pengiriman uang dari pekerja asing selama Idul Fitri dan pengeluaran untuk pemilihan umum pada bulan April, peningkatan pengeluaran konsumen pada kuartal kedua,” kata Tauhid Ahmad, direktur eksekutif Indef, Rabu (7/8).

Dilansir The Jakarta Post, untuk Pemilu 2019, pemerintah menghabiskan lebih dari Rp 25 triliun. Kandidat Jokowi-Ma’ruf mengeluarkan dana sebesar Rp 601 miliar untuk kegiatan kampanyenya, sedangkan kompetitor mereka, Prabowo-Sandi menghabiskan dana sebesar Rp 211,5 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan domestik bruto (PDB) melambat menjadi 5,05 persen yang pada tahun sebelumnya pertumbuhan mencapai 5,27 persen, meskipun tahun ini pengeluaran tinggi selama liburan Idul Fitri dan Pemilu 2019.

Menurut Tauhid, seharusnya pertumbuhan PDB Indonesia tahun ini dapat mencapai 5,24 persen atau 5,27 persen. Sebagai perbandingan, pertumbuhan PDB tahun lalu pada periode yang sama meningkat menjadi 5,27 persen dari 5,06 persen pada kuartal sebelumnya.

BPS melaporkan, pengeluaran rumah tangga meningkat 5,17 persen pada kuartal kedua. Meski begitu, wakil direktur Indef Eko Listiyanto mengatakan, meskipun pengeluaran rumah tangga meningkat, tidak terlalu berpengaruh jika tidak didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi.

Eko mengatakan, sulit bagi Indonesia untuk memenuhi target pertumbuhan PDB yang dibuat pemerintah sebesar 5,3 persen untuk tahun ini. Menurutnya, pertumbuhan yang lebih realistis adalah 5,1 persen atau bahkan hanya 5 persen.

Dia mengatakan Presiden Jokowi harus menggunakan pemilihan menteri kabinetnya yang akan datang sebagai momen untuk mempromosikan optimisme ekonomi, sehingga pertumbuhan PDB tahun ini akan mencapai target pemerintah saat ini sebesar 5,3 persen.

Semantara itu, wakil gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan perang dagang AS-Cina memberikan dampak negatif pada ekonomi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dia mengatakan bahwa perang perdagangan akan terus mempengaruhi kinerja ekspor dan investasi dalam beberapa bulan mendatang.

“Dengan ekspor melambat, permintaan untuk produksi juga menurun. Pendapatan valuta asing juga menurun,” jelas Dody.

“Ini akan mengurangi pendapatan, yang pada gilirannya akan mengakibatkan penurunan konsumsi,” tambahnya.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker