Berita UtamaEkonomi & BisnisNasional

OJK : Rasio Kredit Bermasalah Fintech Tak Boleh Lebih dari 2%

Foto : Internet

Jakarta, Findonews.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) brharap agar seluruh perusahaan financial technology (Fintech) yang basisnya peer to peer (P2P) lending yang telah terdaftar agar melaporkan rasio kredit bermasalah (non performing loan-NPL). hal tersebut bertujuan agar rasio NPL para pelaku usaha ini dapat diawasi oleh OJK sebagai regulator.

“Ini menarik. Kami mewajibkan semua fintech P2P lending yang terdaftar di OJK itu harus selalu melaporkan posisi NPL-nya dari waktu ke waktu. Kalau ada penyelenggara fintech P2P yang mungkin lalai belum melaporkan NPL-nya maka laporkan ke kami. Karena itu kewajiban,” tegas Hendrikus Passagi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan OJK, Jumat (19/10).

Pihaknya memberikan batas besaran NPL untuk seluruh perusahaan fintech P2P lending berada di posisi 1%. “Kalau selama ini kan data kita menunjukkan kisaran 1% (NPL), atau dengan kata lain 1% jangan melampaui 2%,” ujarnya.

Menurutnya kewajiban tersebut memang diperlukan mengingat saat ini besaran NPL pada fintech P2P lending tidak menentu. Meski berada di kisaran 1%, namun angka ini masih dapat berubah-ubah dikarenakan jumlah pemain fintech semakin berkembang.

“NPL kita itu berkisar di 1% kadang kadang 0,9 naik 1%, naik lagi 1,2-1,3% kemudian turun lagi. Nah kenapa dia naik turun? karena pelaku fintech P2P lending itu setiap bulan jumlahnya nambah. Jadi ada yang baru baru karena investment yang baru ini sistemnya belum begitu memahami kadang kadang NPL-nya lebih tinggi sehingga mereka menggerek NPL yang lain, setelah jalan dua bulan turun lagi,” tambah Hendrikus.

Untuk informasi, sebelumnya OJK mencatat 73 perusahaan financial technology (Fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending. jumlah pelaku bisnis ini berpotensi akan terus bertambah karena masih ratusan perusahaan yang antri untuk mendaftar dan mendapatkan izin.

“Ada 73 penyelenggara fintech P2P lending. Dari 73 tersebut, berizin sautu, 72 terdaftar, dan dari 72 terdaftar ini ada 17 diantara mereka sedang mengajukan proses perizinan,” ujarnya.

Selain hal tersebut, OJK juga mengakui kehadiran perusahaan Fintech berbasis P2P lending sempat menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Sebab, penyedia pinjaman online ini erat dikaitkan dengan bunga pinjaman yang dinilai begitu tinggi.

Sebetulnya urusan bunga pinjaman sudah diatur secara transparan oleh setiap perusahaan fintech P2P lending. Di mana, besaran bunga memperhitungkan diantaranya nominal hingga jangka waktu pinjaman. Bahkan, tingkat bunga pinjaman tersebut juga sudah berdasarkan persetujuan antara pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower).

“Tingkat bunga itu ada hubungannya dengan nominal yang dipinjam, berapa tenornya dan paling penting seberapa cepat borrower mendapat pinjaman. Ya gimana kalau pinjaman dengan bunga murah, cuma lima persen tapi tidak jamin dua minggu dapat (pinjaman),” jelas Hendrikus.

Hendrikus menjelaskan, biasanya untuk rating A atau kualitas paling tinggi memiliki bunga pinjaman sebesar 10% per tahunnya. Artinya bunga pinjaman per bulannya sekitar 0 hingga 1% per bulannya. “Kalau yang C yang tanpa jaminan sama sekali itu bervariasi. Antara 40-50% per tahun,” ujarnya.

Menurutnya penetapan rating pada tingkat bunga pinjaman, disesuaikan dengan ada atau tidaknya jaminan yang diberikan kepada sang peminjam. Apabila peminjam memberikan jaminan, maka tingkat bunga bisa lebih rendah sebab adanya jaminan akan memperkecil risiko pembayaran. Ada atau tidaknya jaminan keduanya akan sama-sama dilayani, namun hal tersebut turut menentukan tingkat bunga pinjaman. “Tapi ketika Anda bilang, saya tidak ada jaminan, maka ratingnya turun ke C. Tidak mungkin Anda mengatakan tolong saya dikasih pinjaman tanpa jaminan tapi samain (bunganya) kayak bank. Ya tidak nyambung,” ujarnya.

Oleh karena itu ia meminta agar masyarakat bisa lebih bijak dalam melihat besaran bunga yang diberikan perusahaan P2P lending karena secara proses P2P lending ini dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat.

“Kita harus bijak melihat angka-angka itu. Sekarang P2P lending sangat gampang cari pinjaman. Karena orang begitu mudahnya buka akun. Sehingga kalau dikatakan tingkat bunga di P2P ini sedikit lebih tinggi dari credit card, logis kan? Karena kecepatan kalau di sini cepat dilayaninya,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker