Berita UtamaInternasional

Muslim Amerika Bersaksi Tentang Dampak Larangan Perjalanan Trump

findonews, Washington, DC – Berbicara di hadapan panel kongres Amerika Serikat pada hari Selasa (24/9), Ismail Alghazali, seorang Muslim Amerika Yaman, menggambarkan bagaimana larangan perjalanan Donald Trump mencegah istri dan dua anak kecilnya untuk bergabung dengannya di AS.

“Aku bahkan belum pernah bertemu putriku. Aku tidak pernah menggendongnya di pelukanku. Aku hanya melihatnya melalui foto dan video,” Alghazali, mengatakan dalam dengar pendapat bersama tentang subkomite Dewan Kehakiman dan Pengawasan.

Dilansir Al Jazeera, Alghazali datang ke AS dari kecil pada tahun 2000 dan mencari nafkah dari pekerjaannya di bodega di New York City.

Dia mengatakan istrinya seharusnya memenuhi syarat untuk bisa lolos dari larangan tersebut, tetapi setelah apa yang dia katakan adalah pertemuan lima menit dengan petugas konsuler, visanya ditolak. Sekarang, keluarga mudanya terjebak di Yaman yang sedang dilanda perang.

Untuk pertama kalinya, Muslim Amerika memiliki kesempatan untuk bersaksi di depan sidang kongres di DPR AS tentang dampak dari larangan perjalanan Trump yang menargetkan beberapa negara mayoritas Muslim.

Larangan saat ini berlaku untuk orang-orang yang datang dari Iran, Libya, Somalia, Suriah, Yaman dan Korea Utara, serta pejabat pemerintah dari Venezuela.

Abdollah Dehzangi, seorang warga negara Iran dan penduduk tetap yang sah di AS, menggambarkan menunggu tiga tahun untuk mendapatkan visa untuk istrinya yang berkebangsaan Iran.

Dehzangi, yang memegang gelar doktor, telah pindah ke AS pada 2015 untuk melakukan penelitian dalam bioinformatika di Universitas Amerika.

Dia dan istrinya sama-sama meninggalkan Iran lebih dari 10 tahun yang lalu dan belum kembali, tinggal di Malaysia.

“Mimpi kami semua hancur setelah pengumuman larangan Muslim,” kata Dehzangi, 36 tahun. Visa istrinya ditolak dan akhirnya tinggal di Australia.

“Harapan kami adalah pindah ke Amerika Serikat untuk mengejar karier dan membangun keluarga kami,” katanya.

“Banyak lagi yang memiliki kisah yang sama, kesulitan yang sama, sakit hati dan kesedihan yang sama.” tutur Dehzangi.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker