Berita UtamaNasional

LBH Mengecam Tindakan Penyitaan Buku-Buku Yang Dianggap Pro Komunis

findonews – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Surabaya, Jawa Timur mengecam tindakan Polisi Kraksaan dan Militer Indonesia karena menyita buku-buku yang diyakini mengandung ajaran komunis dengan mengatakan langkah itu sewenang-wenang dan melanggar hukum.

Dilansir The Jakarta Post, Polisi Kraksaan dan anggota Tentara Nasional Indonesia menyita buku-buku milik komunitas literasi di Probolinggo, Jawa Timur, yang bernama Vespa Literasi dan menangkap dua anggotanya.

Dalam rilis pada hari Senin (29/7), LBH Surabaya mengatakan penyitaan buku hanya diperbolehkan jika tindakan diambil setelah proses hukum, sebagaimana diamanatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi dari 2010.

“Menyita buku-buku tanpa proses hukum adalah proses di luar proses hukum yang tidak diizinkan oleh hukum,” kata rilis itu.

LBH juga mengatakan keterlibatan TNI dalam menangani kasus ini adalah salah satu bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Insiden ini juga melanggar Pasal 28 UUD 1945 yang menjamin kebebasan berbicara, terutama untuk mata pelajaran yang diterbitkan dalam bentuk akademik seperti buku.

“Kami menuntut agar Polisi Kraksaan mengembalikan buku-buku itu ke Vespa Literasi. Kami juga menuntut Kapolda Jawa Timur untuk menegur Kapolres Probolinggo dan memberikan sanksi kepada Kapolres Kraksaan atas apa yang terjadi, ”katanya.

Polisi Kraksaan juga menangkap dua anggota Vespa Literasi dan menyita empat buku yang dianggap pro komunis. Polisi juga mengatakan akan membebaskan dua aktivis setelah penyelidikan intensif.

“Kami menyita empat [judul] yang dianggap prokomunis. Dua aktivis literasi ditahan di kantor Polisi Kraksaan. Para aktivis akan dibebaskan setelah penyelidikan intensif. Kami sedang mengembangkan investigasi untuk mengetahui dari mana buku-buku itu berasal ” Kepala Polisi Kraksaan Comr. Joko Yuwono mengatakan pada hari Minggu (28/7) lalu.

Buku-buku tersebut berjudul Dua Wajah Dipa Nusantara, Menempuh Djalan Rakjat, DN Aidit Sebuah Biografi Ringkas dan Sukarno, Marxisme & Leninisme.

“Buku-buku itu telah dilarang di Indonesia, oleh karena itu kami mengambilnya,” tambah Joko.

Vespa Literasi dipimpin oleh Abdul Haq, seorang mahasiswa dari distrik Paiton di kabupaten itu. Masyarakat biasanya mengadakan sesi membaca buku gratis di alun-alun kota Kraksaan pada Sabtu malam.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker