Berita UtamaNasional

KPAI Harus Buktikan Dulu Unsur Eksploitasi Anak Dalam Audisi PB Djarum

findonews, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seharusnya diminta untuk membuktikan adanya unsur pelanggaran dalam audisi bulu tangkis PB Djarum sebelum menilai adanya eksploitasi anak pada kegiatan terebut.

Dilansir CNN Indonesia, Junaedi, Pengajar Hukum Pidana di Universitas Indonesia mengatakan unsur-unsur pelanggaran tersebut terdiri dari logo yang digunakan, audisi dan manfaat, dan unsur eksploitasi anak untuk keuntungan materi.

Untuk persoalan logo, Junaedi mengatakan KPAI harus membuktikan dulu apakah ada kesamaan logo pada produk rokok Djarum dengan audisi bulu tangkis PB Djarum, menurutnya mungkin ada perbedaan antara produknya dengan keigatannya.

“Menurut saya masalah ini identik dengan masalah merek saja. Identik itu harus dibuktikan apakah ada kesamaan kalau dia identik dengan merek rokok atau ada lambangnya sama enggak? Jangan-jangan berbeda lagi,” kata Junaidi kepada CNN Indonesia, Senin (9/9).

Peraturan promosi rokok sendiri sudah diatur dalam pasal 35 ayat (2) huruf b PP yang menyebutkan bahwa promosi tembakau “tidak menggunakan logo dan/atau merek Produk Tembakau pada suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan.”

Junaedi melanjutkan, KPAI perlu mencermati apakah pelaksana kegiatan audisi dilakukan oleh perusahaan rokoknya atau yayasan dari Djarum itu sendiri.

“Pada faktanya sebaliknya; ini yayasan Djarum kalau saya baca, pelaksana Djarum Foundation, apakah dia menjadi pengelola dari CSR Djarum atau bagaimana?” ujar Junaedi.

Djarum Foundation adalah yayasan yang bergerak pada sosial dan lingkungan serta tidak mencampuri urusan jual beli rokok Djarum. Djarum Foundation inilah yang biasanya mengadakan audisi bulu tangkis.

Untuk tudingan eksploitasi anak, Junaedi mengatakan KPAI harus melihat terlebih dahulu apakah Djarum mengambil keuntungan materi dari kegiatan itu.

“Ini yang melaporkan keberatan yayasan lentera anak dan smoke free, [harus dibuktikan] apakah anak-anak diberikan rokok, promosi rokoknya dimana?” ujar dia.

Terlepas dari proses pembuktiannya, Junaedi menganggap belum ada unsur eksploitasi anak secara materi dari pelaksanaan audisi PB Djarum tersebut.

“Jadi kalau saya lihat enggak ada keuntungan materil itu. Atau dalam kegiatan audisi ada booth rokok yang membuktikan ada kepentingan materil,” kata dia.

“Sepertinya KPAI jangan reaktif dengan pengaduan yang ada. Harus dilihat dulu dan dilakukan analisis mendalam sebelum memberikan rekomendasi,” tutup Junaedi.

Sebelumnya KPAI merekomendasikan untuk menghilangkan unsur eksploitasi dengan menjadikan tubuh anak sebagai media promosi gratis.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker