Berita UtamaEkonomi & BisnisInternasionalSains & Teknologi

Kekhawatiran Global Tentang Penggunaan Rokok Elektrik (Vape)

Jakarta, Findonews.com – Masalah penggunaan rokok elektronik (e-rokok) atau vape sedang hangat diperdebatkan dan telah memicu perdebatan di seluruh dunia, termasuk Malaysia. Di antara penyebab yang mungkin adalah laporan dari otoritas AS yang melaporkan sekitar 33 kematian dan 1.479 kasus yang dikonfirmasi dan kasus yang mungkin terkait dengan penyakit pernapasan ‘misterius’ yang disebabkan oleh mengisap vape.

Ada juga kekhawatiran global tentang penggunaan e-rokok atau uap di kalangan remaja, terutama anak sekolah, yang dapat menyebabkan penurunan moral di kalangan generasi muda dan menciptakan lebih banyak masalah sosial.

Kekhawatiran atas keprihatinan ini telah mendorong banyak orang untuk mendesak pemerintah mereka untuk melarang penggunaan vape sepenuhnya. Di Malaysia sendiri, masalah yang sama juga diangkat karenanya baru-baru ini, 50 asosiasi dan organisasi non-pemerintah (LSM) di seluruh negeri menandatangani sebuah memorandum yang mendesak pemerintah untuk menerapkan larangan langsung pada penggunaan rokok elektronik.

Beberapa telah meminta pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang menjual rokok elektronik dan produk lainnya kepada anak-anak di bawah usia 18 tahun. Bahkan, tetangga Malaysia, yakni Singapura dan Thailand telah melarang vape.

Korea Selatan menyarankan warganya untuk berhenti menggunakan rokok elektronik karena meningkatnya kekhawatiran tentang penyakit ini. Pemerintah negara bagian juga telah berjanji untuk mempercepat penyelidikannya apakah akan melarang penjualannya. Langkah ini tentu saja akan mempengaruhi produsen utama bahan ini.

Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan, mereka belum menemukan bukti atau penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan e-rokok aman untuk mengobati rokok.

Berdasarkan perkembangan ini, Seoul baru-baru ini menyelenggarakan Forum Reduksi Kerusakan Asia (AHRF) ke-3. Beberapa ahli berbagi pandangan mereka tentang produk tembakau alternatif, seperti e-rokok dan perangkat panas bebas rokok, mengatakan bahwa sebagian besar perokok sulit untuk berhenti merokok.

Dilaporkan bahwa ada lebih dari 1,1 miliar perokok pada tahun 2015 dan delapan juta orang muda meninggal setiap tahun karena merokok.

Menurut Bank Dunia, tingkat merokok di kalangan pria Asia adalah tinggi dengan Indonesia menempati peringkat pertama dengan perokok tertinggi 76 persen. Ini diikuti oleh Laos (57%), Korea Selatan (50%), Cina (48%), Vietnam (47%), Kamboja (44%) dan Malaysia (43%).

Dr Konstantinos Farsalinos, seorang ahli jantung dan peneliti di Onassis Heart Surgery Center, Universitas Patras dan Sekolah Nasional Kesehatan Masyarakat di Yunani, mengatakan upaya untuk mengurangi bahaya tembakau harus dipertimbangkan dan diterapkan untuk mengekang kebiasaan merokok.

“Obat-obatan dan alkohol dianggap berbahaya dan dapat memengaruhi kesehatan individu, dan bahkan memengaruhi kehidupan orang lain, sehingga harus ada inisiatif untuk mengurangi bahaya mereka.

“Ini melibatkan pengobatan untuk berhenti mengonsumsi zat berbahaya atau mengurangi konsumsi. Pada saat yang sama, dukungan psikologis dan sosial dapat membantu mengurangi risiko dan memberi manfaat bagi individu dan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, kita sebenarnya menerapkan pendekatan untuk mengurangi bahaya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dia juga menunjukkan bahwa minum obat untuk mengobati penyakit adalah pendekatan untuk mengurangi dampak pada kesehatan dan gejala melalui penggunaan obat-obatan atau prosedur medis yang juga berisiko.

“Mengenakan helm, mengenakan sabuk pengaman saat mengemudi, dan bahkan menggunakan kondom adalah beberapa pendekatan yang kami ambil untuk mengurangi bahaya dalam kehidupan sehari-hari untuk meminimalkan risiko. Kita tidak boleh menyimpulkan bahwa kita tidak bisa naik, menyetir, au berhubungan seks, hanya karena risiko yang mungkin kita hadapi. Namun, kita dapat mencoba menemukan cara untuk menyelesaikan ini,” jelasnya.

Banyak Tantangan

Sementara itu, Profesor Tikki Pang (Pangestu), profesor pelawat Sekolah Dasar Awam Lee Kuan Yew, National University of Singapore berkata dalam usaha mengurangkan kemudaratan akibat bahaya merokok, negara Asia berdepan banyak tantangan antaranya salah faham dan mendapat maklumat yang kurang tepat dalam kalangan pembuat dasar dan pemacu politik serta ekonomi.

Tantangan lain adalah faktor kebimbangan dalam kalangan pihak yang berpotensi meraih faedah daripada rokok elektronik serta kemampuan membeli electronic nicotine delivery systems (ENDS) termasuk rokok elektronik, vape dan peranti pemanas-bukan-pembakar.

Beliau menyatakan usaha berterusan perlu dibuat untuk memberi maklumat serta mendidik orang ramai terutama pihak berkepentingan mengenai fakta bahawa rokok elektronik adalah kira-kira 90 hingga 95 peratus kurang berbahaya daripada rokok yang mudah terbakar dan telah terbukti membantu perokok berhenti merokok.

“ENDS seharusnya dijelaskan secara teliti dalam bentuk perundangan untuk membolehkan semua negara mengawalnya dengan berkesan. Belum ada bukti kukuh bahawa produk ENDS mungkin mendorong golongan muda mengambil rokok konvensional,” katanya.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker