Berita UtamaNasional

Kalbar Akan Menindak Perusahaan Yang Terbukti Bakar Lahan

findonews, JAKARTA – Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menggelar rapat koordinasi bersama Dirjen Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Dilansir CNN Indonesia, sebanyak 94 perusahaan di Kalbar yang diduga membakar lahan di kawasan konsesi milik perusahaan dipanggil dalam rapat itu.

Jika terbukti bersalah, Pemprov Kalbar tidak ragu untuk memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang terbukti membakar lahan dengan sengaja.

Sutarmidji mengungkapkan ke-94 perusahaan yang terdiri dari 56 perkebunan dan 38 Hutan Tanam Industri dipanggil karena di sekitar wilayah konsesi mereka terdapat titik api.

“Ke-94 perusahaan ini terdiri dari 56 perkebunan, 38 Hutan Tanam Industri. Mereka kita panggil karena di sekitar kawasan konsesi yang mereka kelola terdapat titik api,” kata Sutarmidji di Pontianak, Senin (12/8).

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti maraknya pembakaran lahan di sejumlah wilayah Kalbar. Sutarmidji mengatakan pihaknya ingin keseriusan dari perusahaan yang terkait, bahkan dia mengatakan jika yang datang hanya staf, akan dipulangkan.

“Kalau yang datang sekelas staf, akan kita suruh pulang. Kita mau ini cepat diatasi, makanya sekelas manager atau pegawai yang bisa mengambil kebijakan yang akan kita panggil,” tuturnya.

Sutarmidji juga mengizinkan perusahaan-perusahaan terkait akan diberi kesempatan klarifikasi setelah pertemuan dalam waktu 3×24 jam.

“Setelah pertemuan ini, kita akan berikan perusahaan-perusahaan ini kesempatan untuk mengklarifikasi hal ini dalam waktu 3×24 jam dan akan kita dengar alasan mereka,” ujar dia.

“Jangan enak saja membakar lahan, yang repot kita, karena yang sakit masyarakat akibat udara tak sehat,” tutur Sutarmidji.

Sutarmidji akan bersikap secara objektif tidak melihat siapa pemilik perusahaan. Menurutnya tindakan sanksi berlaku ke semua perusahaan yang bersalah.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker