Berita UtamaNasionalPolitik

JOKOWI ANGKAT STAF KHUSUS DIGITAL MILENIAL, FAHRI HAMZAH: MASALAH KITA DI SEKTOR RIIL

JOKOWI ANGKAT STAF KHUSUS DIGITAL MILENIAL, FAHRI HAMZAH: MASALAH KITA DI SEKTOR RIIL

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja mengangkat 7 staf khusus untuk membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun ke depan, khususnya dalam mengembangkan inovasi di berbagai bidang. Menariknya, ke tujuh staf khusus yang ditunjuk presiden itu, adalah kalangan milenial.

Menanggapi penunjukan 7 staf khusus dari kalangan milenial itu, Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah melalui pesan singkatnya yang duterima wartawan, Jumat (22/11/2019) mengingatkan bahwa sebenarnya pekerjaan menjadi staf khusus presiden bukan pekerjaan yang mentolerir kapasitas tidak memadai, tetapi harus betul-betul orang-orang yang bisa memberikan keahlian dan tenaganya, serta talentanya untuk membantu presiden.

“Karena sekali lagi, sejarah pengangkatan staf khusus itu memang harus terdiri dari orang-orang yang memiliki kapasitas, meskipun dia politik. Memang itu merupakan hak prerogatif presiden untuk mengangkat staf, tapi perlu diingat bahwa pekerjaan (staf khusus) itu pekerjaan yang cukup berat. Atau mungkin presiden tdak punya triminologi lain yang digunakan untuk memilih orang, sehingga cenderung menggunakan triminologi staf khusus, maka mungkin juga fungsinya di buat lain, begitu,” ucapnya.

Atau mungkin menurut Fahri, ini semacam etalase yang kalau di dalam bahasa umumnya bisa ditangkap sebagai duta dari anak-anak muda atau kaum milenial, yang oleh presiden dianggap memiliki keahlian tertentu atau prestasi tertentu untuk dikomunikasikan dan mendorong agar anak-anak muda Indonesia untuk berkiprah dan berani dalam bertindak atau berani mengambil keputusan untuk maju kedepan.

“Tapi, memang sayangnya semua ini adalah wajah ‘digital’, sementara digital itu menurut saya bukanlah persoalan dasar bangsa Indonesia. Mengapa? Karena persoalan dasar bangsa ini adalah sektor real, apa yang kita makan, produksi sendiri, pakaian dan apa yang kita tanam,” kata inisiator Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.

Sementara yang pertumbuhan teknologi digital, lanjut Fahri, tidak menjamin surplusnya sektor produksi, malah justru bisa membuat bangsa ini sebagai bangsa konsumen. Karena industri digital bisa menjadi alat bagi produk-produk asing untuk secara masif datang ke Indonesia dan mematikan semangat rakyat untuk menjadi produsen di negeri sendiri. Sehingga pertanian mundur, perternakan, kelautan, perkebunan negeri akan mundur.

“Yang seperti itu lah presiden harus memikirkan bahwa anak-anak muda ini bisa menjadi etalase bagi industri digital, tapi harus ada anak-anak muda yang didorong karena menjadi petani, enterprner disektor manufaktur, atau diindustri yang riil, sehingga betul-betul kalau anak-anak muda seperti itu di maksudkan sebagai etalase anak muda, maka etalasenya pun harus lengkap tidak pincang,” ujarnya.

Sebenarnya, anak-anak yang dipilih menjadi staf khusus itu bukanlah anak-anak yang bisa di tiru oleh semua anak-anak muda Indonesia, yang mayoritas masih hidup di pedesaan. Karena anak-anak yang dpilihi itu adalah anak-anak perkotaan yang memang tumbuh dengan teknologi dan pengetahuan yang lebih dri lainnya, demikian mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu menambahkan.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi pada Kamis kemarin (21/11/2019) resmi mengangkat 7 staf khusus dari kalangan milenial untuk membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun ke depan. Sedang tugas para staf khusus kalangan milenial itu untuk mengembangkan inovasi di berbagai bidang. Jadi di sini anak-anak muda semua.

“Ketujuh anak muda ini jadi teman diskusi saya. Mingguan, bulanan yang out of the box dan saya yakin dengan gagasan segar, kreatif untuk bangun bangsa ini,” lanjut Kepala Negara sembarti memperkenalkan satu persatu ke tujuh staf khususnya itu.

Mereka yang diangkat sebagai staf khusus antara lain CEO dan pendiri Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung (23 tahun), pendiri Ruangguru.com Adamas Belva Syah Devara (29), perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi (34), pendiri Thisable Enterprise yang juga kader PKPI Angkie Yudistira (32), pemuda asal Papua lulusan Universitas Oxford Gracia Billy Mambrasar (31), mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aminuddin Maruf (33). Kemudian, pendiri perusahaan tekonologi finansial Amartha yang juga lulusan ITB Andi Taufan Garuda Putra (32).

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker