Berita UtamaEkonomi & Bisnis

Go-Jek Rebranding Logo

Findonews, JAKARTA – Aplikasi layanan transportasi Go-Jek telah berkembang pesat dari yang awalnya hanya memiliki 20 pengemudi ojek sekarang telah memiliki lebih dari satu juta pengemudi dengan nilai perusahaan diperkirakan sebesar 9,5 miliar dolar atau sekitar Rp 130 triliun lebih.

Dilansir The Jakarta Post, pada ulang tahun yang kesembilan Senin (22/7) kemarin, Go-Jek memperkenalkan logo barunya yang melambangkan diversifikasi perusahaan untuk mencakup layanan yang jauh melampaui ojek.

“Go-Jek telah banyak berubah sejak awal. Kami harus mengakomodasi berbagai penyedia layanan, pedagang, sistem pembayaran, dan [pemangku kepentingan] lainnya, ”kata salah satu pendiri dan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Logo terbaru Go-Jek dinamakan Solve, tidak ada gambar pengendara motor lagi dilogo terbarunya melainkan seperti simbol dari pin pada peta.

Go-Jek dimulai sebagai pusat panggilan di mana operator akan menerima pesanan dari pelanggan dan secara manual menghubungi pengemudi hingga salah satu dari mereka menerima pesanan.

Seluruh sistem berjalan pada spreadsheet. Tahun 2015 mengubah perusahaan saat meluncurkan aplikasi selulernya, menawarkan tiga layanan (transportasi, makanan, dan pengiriman paket) dengan sistem penawaran otomatis terhubung dengan pengemudi.

Saat ini Go-Jek beroperasi di 20 subpasar eklektik, dengan volume transaksi bruto (GTV) di seluruh Asia Tenggara mencapai Rp 125 triliun tahun lalu. Go-Food dan Go-Pay di Indonesia saja masing-masing menyumbang  Rp 87,8 triliun dan Rp 27,9 triliun.

Salah satu pendiri Go-Jek, Kevin Aluwi mengatakan pada hari Senin (22/7) bahwa meskipun diversifikasi submarket perusahaan, pada dasarnya menyediakan tiga layanan inti, transportasi, logistik dan jasa keuangan.

Untuk itu perusuhaan decacorn ini telah berkembang selama 18 bulan terakhir ke negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Singapura, Filipina, dan Vietnam. Tetapi hany Thailand yang mendukung tiga layanan inti dari Go-Jek.

Presiden Go-Jek Group, Andre Soelistyo mengatakan mitra perusahaan Vietnam (Go-Viet) memegang 40 persen pangsa pasar dalam layanan angkutan roda dua lokal, sedangkan mitra Thailandnya (GET) termasuk top tiga layanan dalam mengantarkan makanan via online di Thailand

Dia menambahkan bahwa perusahaan mulai bulan lalu melakukan uji coba e-wallet GetPay di Thailand, melanjutkan pembicaraan dengan regulator untuk memperkenalkan layanan naik kendaraan di Filipina dan menandai pasar berikutnya yang diminati di Malaysia.

Go-Jek mengejar ketinggalan dengan saingan Grab, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura yang tidak hanya beroperasi di semua pasar Asia Tenggara kecuali Brunei dan Laos tetapi juga memegang beberapa posisi terkemuka baik untuk pengiriman makanan atau transportasinya.

“Jika kita melihat pengiriman makanan di Singapura, ini sedikit berbeda karena di Singapura, sepeda motor terbatas. Tetapi di Vietnam dan Thailand, kami melihat kemajuannya serupa dengan di Indonesia. Ini akan dimulai dengan berbagai layanan berdasarkan permintaan sepeda motor sebelum memasuki layanan pembayaran dan gaya hidup, ”kata Kevin.

Go-Jek terakhir mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh Rp 3,4 M dari raksasa otomotif Indonesia Astra International dan juga dari Mitsubishi Motors Jepang dan Visa Amerika yang tidak disebutkan jumlahnya. Ketiga investor mengatakan mereka menantikan kemitraan baru setelah investasi mereka.

Decacorn itu meluncurkan layanan baru minggu lalu, yaitu Go-Fleet, yang merupakan perusahaan patungan dengan Astra yang menyewakan mobil untuk pengemudi yang datang dengan berkendara.

Mitsubishi dan Visa belum mengungkapkan manifestasi kemitraan mereka, kecuali bahwa yang pertama akan mengembangkan solusi mobilitas sementara yang kedua akan mengembangkan sistem pembayaran.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker