Berita UtamaFindonews Snapshoot

GARBI, ‘KECELAKAAN’ YANG DINANTIKAN (Perspektif Eksternal, Tinjauan Manajemen Perubahan dan Dinamika Kelompok)

Oleh: @endykurniawan

Seperti diduga, atau lebih jauh ada yang menyebut ‘seperti direncanakan’, riak kecil timbul akibat jatuhnya beberapa tiang layar sebuah kapal agak besar. Perlahan riak menjadi ayunan yang semula melenakan, kemudian membesar dan menggelombang. Pada tahap ini, yang terjadi adalah hempasan, mulai agak mengkhawatirkan.

Riak mungil telah menjelmakan guncangan. “Mulailah berpegangan,” kata nahkoda berjaga. Di seberang sana, di pantai yang gersang dan sepi, gelombang diintai kapan sampai. Kapan kiranya hempasan mencapai daratan?

Andai tak membawa ikan, bukankah semilirnya datang lebih dulu mengirim kabar tentang musim yang segera berganti?

Penghuni pantai itu adalah generasi gelisah yang mulai merindukan suasana baru – yang entah bisa membawa perubahan – atau sekedar petualangan baru yang mengasyikkan.

Dari bibir pantai itulah tulisan ini diramu. Penikmatnya mungkin juga turis yang berjemur di pantai landai – entah di seberang mana, sebagai teman menikmati senja.

Kemerisik tulisan ini mungkin tak menjangkau bahkan buritan kapal tadi, yang penumpangnya terus gaduh, mengayuh seperti tak terpengaruh, sementara lambung bahtera miring ke kanan, nyaris buang sauh.

Di bibir pantai yang mulai segar, orang memandang jauh ke ufuk. Disana kapal tua mulai menghilang, dibekap senja di tepi cakrawala.

BAGIAN 1 : ‘HARNESSING HYSTERIA’ – PERSPEKTIF EKSTERNAL

Tulisan ini tak membahas PKS – dengan maksud agar tak menoleh ke belakang – dan karena pengetahuan penulis tentangnya tak terlalu dalam. Sejak 3 tahun ke belakang, kegelisahan bukan lagi sekedar gejala.

Kalau kaum millenial dianggap sebagai generasi anti-loyalitas, di lapangan bisa ditemui mereka nyatanya loyal hanya pada dinamika. Di tengah dunia yang over-connected dan tergantung pada mesin pencari mereka justru perlu jawaban atas berbagai situasi. Generasi yang menemukan ruang sunyi di tengah keramaian gadget dan dunia maya.

Bagi millenials, kebekuan adalah siksaaan. Kekakuan berpikir membuat batang pemikiran jadi getas dan mudah patah. Generasi yang berkuasa kini perlu menceritakan masa depan yang penuh harapan ke depan. Jika dibiarkan, anak muda itu akan gundah. Dunia yang kita warisi sudah kering, kata Chomsky, dan meninggalkan tontonan tentang kemarahan yang makin memuncak karena ketidakadilan ekonomi, konflik yang tiada habis, perang dingin baru dan badut yang lemah dan jadi pemimpin – seperti Trump dan presiden setipe di negeri lain.

Saya mengikuti seluruh acara Ngopi Bareng Fahri yang dikelola bareng teman-teman FAHR1VOICE, yang sama sekali bukan berasal dari partai, ormas apalagi idiologi tertentu. Mereka cuma setia pada narasi Fahri Hamzah, dan merasa edukasi tentang demokrasi – yang sebetulnya merupakan tema yang berpeluang membosankan – perlu dibuat rileks sambil keliling di warung kopi. Dalam debat yang seringkali brutal – saya catat misalnya di Ambon, Surabaya dan Bima – anak-anak muda yang hadir, entah dengan latar belakang apa, tampak cuma perlu menerjang sumbatan.

Dalam roadshow 26 kali acara Ngopi yang gak jelas itu, ada 7.000-an anak muda bergabung dalam barisan, sekitar 3.000 audiens yang hadir langsung, dan berbagai kafe yang menyediakan halamannya untuk nongkrong. Gratis. Maka gelombang itu yang rupanya terus menggelinding.

Bagi sebagian besar anak muda yang hadir sekedar nongkrong menikmati musik, komika pemula pemalu yang manggung, atau yang secara serius berbaku narasi dengan Fahri, GARBI adalah sekedar pelembagaan gerakan.

Sejak Fahri Hamzah bertengkar dengan partainya, figur ini makin jadi simbol perlawanan atas kebekuan, kekakuan, kebuntuan. Ketika meluas perlawanannya melawan KPK, mengolok-olok pemerintah yang lembek dan tak punya visi, penegak hukum yang tebang pilih, semua orang sudah menanti sebuah gelombang baru. GARBI, ABI, PAWAI KEBANGSAAN, apalah namanya, mereka tak terlalu peduli.

Histeria itu mencari salurannya. Kecelakaan terjadi, mewujudlah GARBI dan mungkin ini yang telah lama dinantikan. Kecelakaan, seperti yang sering diulang Fahri Hamzah, “Terjadi begitu saja, tanpa desain yang memadai, dan tumbuh dari bawah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker