Berita UtamaEkonomi & Bisnis

Empat Startup Besar yang juga Memiliki Kerugian Besar

findonews, JAKARTA – Untuk mendapatkan banyak pengguna, bisnis startup kerap kali ‘membakar uang’ mereka dan merugi, tetapi kerugian tersebut dapat menjadi kekhawatiran apabila kerugiannya besar.

Berikut empat startup besar yang ternyata memiliki kerugian yang juga besar, dikutip dari detikinet :

  1. Ofo

Perusahaan asal Cina ini sebelumnya pernah memiliki nilai sebesar USD 2 miliar, mereka menjadi pionir sewa sepeda online dimana pengguna hanya perlu memindai kode QR dan bisa langsung memakainya.

Ofo melakukan ekspansi secara besar-besaran dan beroperasi di sekitar 20 negara, dari Prancis, Australia hingga Amerika Serikat. Karena terlalu agresif dalam melakukan pertumbuhan, akhirnya perusahaan ini memiliki utang yang banyak.

Dikabarkan Ofo memiliki utang USD 36 juta atau setara dengan Rp 508 miliar kepada perusahaan pembuat sepeda yang memasok sepeda mereka Tianjin Fuji-Ta Bycicle Co, Ofo akhirnya diadukan ke pengadilan oleh Tianjin.

Diketahui Ofo tidak memiliki aset apapun untuk membayar utang tersebut, Eksekutif Ofo termasuk para pendirinya akhirnya masuk daftar hitam pengadilan karena tidak mampu membayar utang-utang mereka dan General Manager mereka, Chen Jing dilarang meninggalkan Cina.

  • Uber

Agusutus kemarin Uber kembali mengumumkan keuangan terakhirnya, untuk periode kuartal II 2018 perusahaan taksi online ini menerima kerugian sebesar USD 5,2 miliar atau lebih dari Rp 71 triliun.

Penyebabnya mungkin adalah bakar uang untuk mendapatkan banyak pengguna, kerugian ini lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 878 juta.

Tekanan pun meningkat seiring kerugian yang terus melanda perusahaan yang menjadi pionir taksi online ini, terlebih saat ini mereka adalah perusahaan publik karena sudah melakukan IPO (Initial Public Offering).

“Uber telah ada sekitar satu dekade dan telah membakar beberapa miliar dolar uang investor untuk sampai pada kondisinya saat ini dan belum ada model bisnis yang terlihat berfungsi,” tulis website Wolfstreet.

  • WeWork

Jatuhnya perusahaan WeWork menjadi pusat perhatian di dunia bisnis maupun teknologi, mereka dalam kerugian besar dan masih harus bakar uang. Tanpa tambahan uan tunai, WeWork diperkirakan tidak akan bertahan lama.

Dengan persediaan uang tunai USD 2,5 miliar, seandainya tidak mendapatkan kucuran dana WeWork akan berhenti beroperasi pada tahun 2020. Kabarnya WeWork telah berbicara dengan calon investor untuk menyelamatkan bisnis mereka.

Salah satu penyebab kerugian besar mereka adalah ekspansi yang sangat agresif. Dalam tiga tahun terakhir, WeWork membuka lebih dari 400 lokasi baru di berbagai negara.

  • Airbnb

Aplikasi startupyang bergerak dibidang penginapan ini mengalami kerugian besar, hal ini bisa menimbulkan keraguan kepada para investor oleh rencana Airbnb yang terjun di bursa saham pada tahun depan.

 Airbnb dikabarkan menerima kerugian sebesar USD 306 juta atau Rp 4,3 triliun pada kuartal I 2019, naik dua kali lipat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi keuangan Airbnb dapat menyebabkan investor tidak tertarik dengan mereka, terlebih startup sejenis seperti Uber dan Lyft dahamnya terus jatuh, mereka masih merugi dan bakar uang untuk menarik pelanggan.

Meskipun menderita kerugian yang cukup besar, Airbnb masih memiliki persediaan uang tunai sebesar USD 3 miliar, mereka juga berpotensi mendapat kucuran dana dari para investor

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker