Berita UtamaEkonomi & Bisnis

7 CEO yang Bangkrut dan Kehilangan Perusahaan yang Mereka Bangun

findonews, JAKARTA – Kapitalisme bisa menjadi sesuatu yang buruk, menurut statistik, sembilan dari 10 startup dijamin akan gagal dan sebagian besar karena perusahaan hanya menghabiskan uangnya. Ketika perusahaan bangkrut, biasanya akan berdampak juga pada kekayaan bersih CEO.

Silicon Valley bukanlah tempat bagi para pengusaha untuk menetap dalam jangka waktu yang panjang, kegagalan kerap terjadi disana. Kerugian tidak hanya berdampak pada perusahaan tetapi juga kekayaan pribadi para pendirinya.

Kegagalan dalam industri teknologi bukanlah hal yang dapat dihindari, risiko kehilangan segalanya nampaknya menjadi bagian dari permainan ini. Berikut eksekutid teknologi yang kehilangan jutaan dan perusahaan yang mereka bangun dikutip dari Business Insider.

Elizabeth Holmes, CEO Theranos

Source : MedCity News

Theranos didirikan pada 2003 ketika Holmes berusia 19 dan kuliah di Universitas Stanford. Pada 2015, Theranos memiliki kekayaan $ 9 miliar. Setahun kemudian, reporter Wall Street Journal, John Carreyrou menerbitkan tulisan yang merinci perusahaan beroperasi pada kapasitas terbatas serta menghasilkan hasil yang palsu dan tidak dapat diandalkan untuk pasien.

Pada akhir 2017, Theranos bangkrut, perusahaan tidak punya uang dan anggota dewannya pergi. September lalu, Theranos memecat karyawannya dan Holmes menghadapi tuduhan penipuan. Perusahaan tutup hanya beberapa hari kemudian untuk selamanya.

Holmes, yang pernah ditaksir Forbes memiliki kekayaan bersih $ 4,5 miliar, kini ia diperkirakaan tidak memiliki kekayaan bersih sama sekali.

Antoine Balaresque dan Henry Bradlow, Penemu Drone Lily Robotics

Source : LILY

Pada 2015, Lily Robotics membuat para investor tertarik dan mendapat pendanaan $ 15 juta. Mereka mendapatkan hampir $ 35 juta dalam prapenjualan berkat video viral yang menunjukkan drone sedang beraksi.

Namun dua tahun kemudian, Lily Robotics tutup, mengajukan kebangkrutan. Lily membakar sekitar $ juta per bulan sementara pelanggan yang sudah membayar diawal cemas menunggu drone mereka. Pada tahun 2017 pihak Lily berencana mengembalikan uang pelanggan, tetapi belum ada kejelasan.

Sunil Paul, CEO Sidecar

Source : Getty Images

Di masa jayanya, sekitar tahun 2011, Sidecar dianggap sebagai perintis berbagi perjalanan, bahkan mengalahkan Uber dan Lyft untuk diluncurkan. Namun, dengan sedikit dana lebih dari $ 35 juta, pendiri Sidecar dan mantan CEO Sunil Paul mengatakan perusahaan itu tidak dapat bersaing dengan Uber, yang mengumpulkan lebih dari $ 6,6 miliar. Sidecar akhirnya menutup operasinya pada 2015, namun mampu menjual asetnya ke General Motors pada tahun berikutnya.

Sean Parker dan Shawn Fanning, Penemu Napster

Source : Getty Images

Napster didirikan pada tahun 1999 oleh dua orang remaja Sean Parker dan Shawn Fanning sebagai layanan berbagi musik dan bertukar file gratis. Tetapi setelah beberapa tuntutan hukum terkenal, Napster gulung tikar dan setuju untuk membayar $ 26 juta kepada penerbit.

Kegagalan kolosal ini tidak membuat keduanya jatuh untuk waktu yang lama. Parker kemudian menjadi presiden pertama Facebook dan Fanning mulai berinvestasi.

Hosain Rahman, CEO Jawbone

Source : Technode

Jawbone Health, aplikasi kesehatan dan kebugaran, mengumpulkan sekitar $ 950 juta. Jawbone menghabiskan hampir $ 1 miliar selama satu dekade, tetapi pada akhirnya tidak dapat menghasilkan keuntungan yang bisa bersaing dengan saingannya Fitbit.

Kegagalan Rahman pada Jawbone dipredikati Reuters sebagai kegagalan terbesar kedua diantara perusahaan yang didukung ventura.

Meskipun Rahman gagal, itu semua tidak menghalanginya untuk menghasilkan lebih dari $ 65 juta untuk sebuah perusahaan tahun ini.

Chet Kanojia, CEO Aereo

Source : CNBC

Kenaikan tinggi Aereo, startup streaming televisi / video yang dipelopori oleh Chet Kanojia, ditembak jatuh oleh Mahkamah Agung AS pada 2014 setelah pengadilan memutuskan itu melanggar hukum hak cipta pada 2014, hanya dua tahun setelah didirikan.

Lima bulan kemudian, Kanojia dan Aereo berakhir di pengadilan lagi – tetapi kali ini untuk mengajukan kebangkrutan, menurut sebuah posting blog yang ditulis oleh Kanojia sendiri.

Daniel Ishag, CEO Karhoo

Source : The Times

Aplikasi pemanggil taksi, Karhoo yang ditemukan Daniel Ishag bangkrut setelah hanya 18 bulan diluncurkan, Ishag mengundurkan duru dan beberapa hari kemudian perusahaan mengumumkan rencananya untuk tutup.

Kevin Gibbon, CEO Shyp

Source : Tech Crunch

Shyp, sebuah startup pengiriman berdasarkan permintaan yang sempat mengancam perusahaan lain karena potensinya untuk mengganggu seluruh industri pengiriman.

Shyp mampu mengumpulkan $ 60 juta dalam pendanaan dari perusahaan-perusahaan seperti Kleiner Perkins, tetapi pada akhirnya tidak dapat menemukan kesuksesan.

CEO Shyp, Kevin Gibbon menuliskan sebuah tulisan di blog pada Maret 2018 yang mengatakan rencana untuk menutup Shyp.

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker