Thursday, 21 June 2018
Home / Berita Utama / “Yen Wani Ojo Wedi-Wedi. Yen Wedi Ojo Wani-Wani”

“Yen Wani Ojo Wedi-Wedi. Yen Wedi Ojo Wani-Wani”

Image : Findonews
Image : Findonews

 

Kultwit Perjalanan Fahri Hamzah Semarang 28-29 Mei 2016

Oleh : Bambang Prayitno

 

1. Assalamu’alaikum Wr.Wb. Sugeng Rawuh konco-konco. Hari ini saya bersama bang Fahri Hamzah ada di Semarang

2. Kegiatan kami dalam rangka Kunjungan kerja Waka DPR sekaligus dirangkai berbagai kegiatan

3. Ada Pelatihan Legislatif Mahasiswa Undip yang dihadiri oleh ratusan aktivis mahasiswa Undip. Hai Dips !. Are you ready ?

4. Juga ada bertemu dengan pimpinan organisasi gerakan mahasiswa dan kaum muda se-Jateng. Temanya “Catatan Indonesia Hari Ini”

5. Juga pertemuan dengan aktivis KAMMI untuk bicara tentang Reformasi dan masa depan Indonesia

6. Tak lupa, pertemuan dengan aktivis KNPI Jateng. Bicara tentang Pancasila sebagai falsafah bangsa

7. Juga direncanakan bertemu mas Ganjar Pranowo. Sekalian nobar bersama aktivis muda Jateng

8. Kami tiba di Bandara Ahmad Yani, sekitar jam 7 lewat sedikit. Ini pesawat paling pagi dari Jakarta

9. Udara di darat sekitar Bandara Ahmad Yani sedang kata pengarah cuaca. Katanya sih 26 detajat celcius

10. Memang Semarang tak pernah dingin. Cenderung panas. Udara dari laut Jawa menerpa

11. Semarang itu konon sejarahnya bertalian dengan Demak dan Raden Pandanarang

12. Di sebuah tempat baru, Raden Pandanarang menggarap lahan pertanian bersama para pengikutnya

13. Setelah digarap, ternyata tumbuh pohon asam yang saling berjauhan. Jarang tumbuhnya.

14. Asem sing arang. Maka jadilah daerah itu ‘asemarang’. Atau Semarang dalam pengucapan yang lebih mudah

15. Raden Pandanarang juga yang akhirnya menjadi pemimpin kota dagang tersebut

16. Kisah Raden Pandanarang sendiri beririsan dengan Wali Songo dan Demak Bintoro. Ia penyebar Islam di Semarang

17. Terkenal menjadi shalih sejak muda dan lebih memilih menyepi di usia tuanya. Ia memilih jalan ruhani

18. Teladan yang baik bagi kita. Ketika senja tiba, jangan sampai nafsu kuasa menguasai jiwa. Madeg pandhita

19. Oh ya, saya lupa. Perjalanan kali ini saya beri judul “Yen Wani Ojo Wedi-Wedi. Yen Wedi Ojo Wani-Wani”.

20. Sebuah falsafah jawa yang dalam. Tentang kebenaran dan keberanian. Tentang kokohnya jiwa-jiwa

21. Sebuah filsafat jawa yang memiliki arti “kalau berani jangan takut-takut dan kalau takut jangan berani-berani”.

22. Seorang pemberani adalah orang yang mampu mengatasi rasa takut. Orang yang berani karena ia punya pijakan yang kokoh

23. Ia menjadi berani karena ia benar. Dan kebenaran itu ia pegang teguh dalam sikap dan tindak laku

24. Orang yang kokoh jiwanya juga bukan orang yang ragu. Tak pernah ragu, karena keragu-raguan akan membawa kehancuran

25. Baiklah kalau begitu. Yuk kita lanjut Dips and friends. Juga kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang lain

26. Acara pertama kami adalah Pelatihan Legislatif. Undip. Jam 08.40. Kami diterima Ibu Ipung Biro Kemahasiswaan Undip di gedung PMI Jateng

27. Bu Ipung sempat cerita. Kurikulum kampus Undip sisipkan soft skill. Seperti wirausaha, bahasa asing. Dan lain-lain

28. Bu Ipung juga sampaikan apresiasi dengan aktivis mahasiswa. Karena miliki kemampuan berbicara

29. Bang FH sampaikan tentang kemampuan Life skill. Humaniora dan hal dasar yang harusnya dimiliki mahasiswa

30. Bang FH berjanji akan meng-ecourage mahasiswa dan kampus agar milki tradisi intelektual

31. Kampus adalah tempat kaderisasi kepemimpinan bangsa. Kita harus berikan konten lebih kuat supaya mahasiswa punya memori positif

32. Masuk kampus tidak dimaknai hanya sebagai tempat kursus dan menuju tempat kerja. Tapi bagian dari cara kita menyiapkan diri dalam kepemimpinan

33. Critical thinking harus menjadi tradisi kampus. Tradisi protes membuat kehidupan sosial kita membaik.

34. Sekarang, sekolah itu untuk mencari makan. Kalau kita menjadi aktivis, ada keinginan kontribusi bagi bangsa

35. Kita pastikan masuk ke ILUNI UI dulu. Nanti kita perbaiki sestem pendidikan. Mulai beri masukan kurikulum nasional

36. Sayup saya dengar lagu. Totalitas Perjuangan. Seperti suara yang merdu nan murni yang memanggil

37. Kepada para mahasiswa. Yang merindukan kejayaan. Kepada rakyat yang kebingungan. Di persimpang jalan

38. Kepada pewaris peradaban. Yang telah menggoreskan. Sebuah catatan kebanggaan. Di lembar sejarah manusia

39. Wahai kalian yang rindu kemenangan. Wahai kalian yang turun ke jalan. Demi mempersembahkan jiwa dan raga. Untuk negeri tercinta

40. Kami masuk ke ruaangan acara. Disambut tepukan mahasiswa. Peserta Lesgislatif 1 Undip dan Unnes.

41. Bu Ipung jadi pengayuh mukadimah. Berkan apresiasi. Aktivis itu buat mahasiswa jadi berani. Bu Ipung dukung menjadi aktivis

42. Kelihatan perbedaan yang mencolok. Bicara para aktovis itu sistematis. Ayo terus belajar organisasi

43. Bu Ipung sampaikan maaf. Rektor tidak bisa hadir di tempat acara. Rektor sedang acata di Salatiga

44. Sigit Tirtoutomo, Ketua Senat Undip, sampaikan sambutan. Aresiasi kehadiran bang Fahri. Fahri jadi idola mahasiswa Indonesia. Kata-katanya dikutip

45. Sigit sampakan kata, katika bicara legislatif maka kita bicara hukum. Ada aspek yg harus kita ketahui dan pelajari.

46. Aspek kelembagaan, aspek legislator itu sendiri. Ada drafting teknis dan yang lainnya. Sigit harap peserta bisa maksimal agar dapat ilmu

47. Moderator acaranya Tessa Reavenanda. Mahasiswi pintar nan ceria dar Diponegoro. Salah satu aktivis Senat. Sampaikan yel semangat

48. Fahri Hamzah bicara. Bahwa ia suka berbicara dengan mahasiswa. Mahasiswa itu tulus hatinya.

49. Mahasiswa tidak bisa terlalu terorganisir. Tidak bisa seperti korporasi bisnis atau buruh pabrik

50. Mahasiswa bisa dikelola dengan sentuhan akan kemampuan kita untuk mendengar.

51. Mahasiswa masih muda. Tidak ada kepentingan di dirinya. Tidak ada kepentingan dapur. Bukan underbouw kekuatan politik

52. FH datang ke kampus dalam rangka mempertajam nurani, menguatkan nalar dan pikiran

53. Bicara soal tema. Reformasi kelembagaan dan identitas seorang wakil rakyat. Berarti ini soal nilai yang kita yakini

54. Ingatlah klta akan seorang John Emerich Edward Dalberg Acton, seorang sejarah dan moralis

55. “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Kita pernah mengalami itu. Absolut power

56. Makanya kemudian ada pemisahan kekuasaan. Agar ada keseimbangan. Bahkan ada semacam check and balances

57. Dahulu, kekuasaan sepenuhnya di tangan raja. Dimana raja adalah eksekutif sekaligus legislatif sekaligus yudikatif

58. DPR lahir sehari setelah proklamasi kemerdekaan RI. Sebagai konsekuensi berdirinya negara demokrasi

59. DPR bertugas sebagai legislasi, budgeting, pengawasan, juga diplomacy.

60. DPR adalah law-maker, punya hak angket, bisa menjatuhkan eksekutif dan legislatif sendiri

61. Di Amerika, Yudikatif bisa dijatuhkan oleh legislatif. Kalau di Indonesia baru presiden yang bisa dijatuhkan

62. Tentang DPR dan fungsi representasi. Dahulu DPR diseleksi ‘tertutup’ oleh partai, siapa yg terpilih tak perlu dikenal rakyat.

63. Dulu Wakil rakyat tidak dipilih mewakili wilayah. Sekarang DPR sangat terbuka

64. Keterwakilan berdasarkan fungsi representasi. Suara terbanyak, benar-benar mewakili wilayah dan masyarakatnya

65. Dalam budgeting, DPR punya kewenangan hak budget, dapat membantu rakyat agar eksekutif membangun daerah sesuai aturan

66. Di Indonesia ini, ada pihak yang tidak ingin DPR mengakar di masyarakat. Mereka ingin mengendalikan rakyat dengan opini dan pelemahan DPR

67. Padahal DPR bertugas menyambung lidah rakyat, memperjuangkan pembangunan di dapil dan di seluruh wilayah NKRI

68. UU MD3 memberi ruang bagi anggota DPR untuk ajukan UU yang dibutuhkan rakyat, namun harus disertai naskah akademik berdasar riset

69. Pemilihan legislatif masih melalui parpol, itulah pilar demokrasi. Tapi loyalitas pada negara harus lebih besar

70. ‘When my loyality to my country begin, my loyality to my party end’

71. Fungsi representasi mewakili daerah berdasarkan trust. Dan itulah market value dalam hubungan rakyat dengan wakilnya

72. Student government perlu dikembangkan ke arah yang lebih setara antara mahasiswa dan birokrasi kampus

73. Kebebasan dan keberanian harus diperjuangkan. Jangan sampai peristiwa semena-mena kampus memecat mahasiswanya terjadi

74. Ada banyak korban sistem pendidikan yang justru menjadi sangat hebat dalam kehidupan nyata

75. Menggabungkan semua harta lulusan Harvard mungkin tidak sebanding dengan kekayaan mahasiswa yang tidak lulus

76. Lihatlah seperti pendiri facebook dan microsoft. Atau yang lain

77. Mahasiswa harus membangun diri dan sesamanya untuk menjadi kekuatan besar dan mudah dilumpuhkan. Teruslah bergerak, dan merawat cita-cita

78. Kecenderungan bentuk organisasi mahasiswa bisa saja menduplikasi lembaga politik nasional

79. Tapi kita jangan terjebak beraktivitas dalam politik untuk kekuasaan. Karena di kampus, tidak ada yang diperebutkan

80. Mahasiswa hari ini menjadi mesin pembangunan; skrup industri dalam kapitalisme yang semakin sempurna. Istilahnya ”mass production’

81. Sekarang tekanan mahasiswa justru dari sisi akademik. Dulu kita bisa menjadi mahasiswa abadi. Kalau sekarang bisa DO kalau lama di kampus

82. Partai mahasiswa di dalam kampus tergantung. Kalau punya bergaining kuat dalam kampus. Bisa rubah kebijakan, maka sah saja buat partai

83. Pertanyaan kita; adakah keberanian kita menyasar dan menentang UU yang mengekang aktivitas mahasiswa

84. Kalau tidak jelas tujuan partai politik kampis, maka kita seperti bermain-maim saja. Kalau tida punya bayangan masa depan kampus

85. Tapi kita harus komplain dengan cara berpolitik negara pada mahsiswa. Kita masih dianggap kursus. Dengan biaya subsidi rakyat yang besar

86. Mahasiswa sekarang cenderung selfish. Tidak diajarkan idealisme kelas tinggi. Dan mahasiswa kehilangan modal yang besar

87. Ada saat ketika kita mencari pemimpin lalu kita kekurangan stok pemimpin. Kita menghadapi masa depan yang suram

88. Mahasiswa hari ini tidak diajarkan berpikir, menulis dan berpidato. Ini tragis bagi kebangsaan kita

89. Kita harus bisa menemukan jalan. Semoga kita dipercaya bisa pikiran rasa kita untuk menjadi pemimpin masa depan

90. Acara Pelatihan Legislatif selesai. Bang Fahri berikan cinderamata buku. Agar dibaca mahasiswa

91. Bang Fahri diminta sampaikan yel; “hidup mahasiswa !”. Bang Fahri teriakkan. Mahasiswa sambut dengan gempita. Luar biasa !

92. Kita menuju acara Bincang Bersama Bang Fahri. Digagas BEM Undip. Undang seluruh BEM se-Jateng

93. Selanjutnya para pesera welfie bersama bang Fahri. Suasananya rileks dan bahagia. Tak tegang. Tapi sedikit ngantuk

94. Ketua BEM Undip Fawas syaefullah
Ketua BEM POLINES Bagas Saputro @bagassaputo24 sambut kami. Di Meeting Point Semarang

95. Catatan Indonesia Hari Ini. Kita hidup dalam suasana kampus yang mekanik. Hanya menciptakan skrup industri

96. Sikap anak muda sekarang itu selfish. Narsisme dalam sikap. Tak hirau dengan kondisi

97. Sementara, kalau kita mau menegaskan sikap kita, kita harus perjelas peta keindonesiaan kita

98. Peta Indonesia pada masa otoritarianisme itu hampir tak ada. Kita meraba-raba dalam ruang gelap ketakutan

99. Peta setelah reformasi itu lusuh. Terlalu banyak yang terlibat dan berkepntingan. Seperti tercabik

100. Mahasiswa dalam trilogi kepentingan negara pasar dan rakyat. Maka pembelaan kita harus kepada rakyat

101. Peran mahasiswa harus makin menguat. Kita bersama rakyat. Karena bersama rakyat kita merasa tenang dengan masa depan

102. Kita harus bersih dan tulus dalam menghadapi kondisi zaman. Karena dengan ketulusan, kita akan dapati kejernihan

103. Kalau 2019 kita salah memilih, maka transisi akan tumbang. Kalau benar memilih presiden, kita akan terbang

104. Jam tubuh gerakan mahasiswa harus kita sadari. Kita setel ulang agar sesuai dengan tanda

105. Suka atau tidak suka, 1998 itu buah pikiran pendek. Dulu kita hanya berpikir bagaimana supaya Soeharto tumbang. Setelah itu bingung

106. 2018-2019 itu harus kita pikirkan serius. Karena kita tak mau mengulang kegagalan kepemimpinan

107. Kita melihat advokasi kemahasiswaan kita jangan dengan aspek politik. Tapi aspek kebenaran. Sisi kebenaran

108. Harus kita yakini juga bahwa pada setiap kesalahan rakyat ada kelalaian negara

109. Teruslah bergerak dalam keyakinan dan kebenaran yang utuh. Diskusi dengan mahasiswa Jateng selesai. Fahri sampaikan salam untuk kawan-kawan

110. Kami lanjutkan perjalanan kami menuju hotel untuk istirahat. Break dulu ya. Ishoma dulu. Biar fresh dan segar

111. Semarang pancen oye

112. Saya mohon maaf karena baru bisa menyelesaikan catatan perjalanan Fahri Hamzah di Semarang. Semoga sidang pembaca maklum

113. Harusnya sebelum pulang, saya selesaikan dulu. Agar seolah-olah pembaca benar-benar merasa ikut dalam perjalanan

114. Tapi karena sesuatu dan lain hal, maka rencana itu tertunda. Alasan klasik sih ya. Tapi semoga dimaafkan. Hahaha

115. Sore hari tanggal 28 Mei sekitar setengah jam menuju 18.00 kamj putuskan merapat ke kantor Jawa Pos Tribun Jateng

116. Jawa Pos (JPNN) adalah grup media terbesar. Mungkin sekarang termasuk media cetak paling besar

117. Dahlan bisa meng-create agar setiap cabang bisa hidup. Itu prestasi luar biasa

118. Sesampai d kantor kami disambut oleh Agus Riyanto. Dewan Redaksi Jawa Pos Jawa Tengah

119. Semoga tulisan namanya benar. Maaf-maaf kata kalau salah. Dasarnya ingatan. Punya batas

120. Orangnya muda. Ia sempat cerita kalau sekarang wartawan dan dewan redaksi Jawa Pos muda-muda

121. Ada pergeseran paradigma dan pengelolaan SDM perusahaan. Ini menarik dan memicu produktivitas

122. Agus Riyanto orang muda. Ia ditemani dua wartawan yang sehari-hari mangkal di DPRD dan Balaikota

123. Agus jelaskan bahwa kantor Jawa Pos Jateng adalah kantor baru. Dulunya rumah pribadi Mardiyanto. Mantan Mendagri

124. Oplah Jawa Pos Jateng sekitar 42ribu. Capaian luar biasa. Tapi Agus merendah. Di Jateng masih kalah sama media lain katanya

125. Bahkan karena prestasinya, Jawa Pos Jateng, terutama Radar Semarang bisa kasih subsidi dan bantuan ke daerah lain sekitar Semarang

126. Saat diskusi dibuka, FH cerita soal digitalisasi media. Sekarang media tidak lagi konglomerasi

127. Setiap orang bisa jadi wartawan. Karena bisa mengabarkan peristiwa kepada dunia lewat dunia digital

128. FH cerita di pertemuan sebelumnya bahwa ia juga pernah jadi wartawan kampus. Karena sering kritik rektorat, akhirnya dibreidel

129. Sekarang, media bisa dibuat oleh siapapun. Bahkan oleh orang yang tidak memahami esensi kewartawanan

130. Wartawan itu tugas mulia. Kerjanya mengabarkan kebenaran. Punya kode etik. Itu bisa dianggap sebagai sumpah

131. Wartawan juga mengabarkan peristiwa yang rakyat menunggunya. Seperti kebutuhan masyarakat atau peristiwa keadilan di tengah rakyat

132. Mas Agus berikan kesempatan pada kawan-kawannya untuk bertanya. Mereka bertanya soal Pasar dan konflik tanah

133. Kebetulan dua hal itu sedang ramai di Semarang. Jadi perhatian publik dan melibatkan rakyat

134. Ada kasus di Semarang dimana Pasar tradisional dibangun sampai 4 tingkat. Pengunjung tak ada

135. Ada juga kasus di Semarang dimana Kereta Api Indonesia berebut lahan dengan rakyat di Kebonharjo

136. Soal pasar mangkrak, wartawan tanya bagaimana pendapat FH tentang kasus ini. Karena sebagian dana pakai dana pusat

137. FH jelaskan. Memang distribusi barang dan pengelolaan pasar di Indonesia tidak diatur dalam regulasi yang ketat

138. Distribusi anggaran untuk infrastruktur sarana rakyat juga banyak tidak pertimbangkan kebutuhan riil masyarakat

139. Akibatnya, banyak pembangunan salah sasaran karena kurang matangnya perencanaan

140. Harusnya ada kajian yang dalam saat perencanaan. Sehingga setelah pasar tersebut selesai dibangun tidak nganggur atau mangkrak

141. Kalau mangkrak, sama saja buang-buang uang negara. Sayang. Uang negara yang terbuang tiap tahun triliunan. Harus di evaluasi

142. Pasar juga terkait sebaran penduduk dan kebutuhan rakyat. Jangan sampai bangun tapi tidak ada pedagang atau pembeli

143. Soal jejaring konglomerasi penyalur barang kebutuhan rakyat, juga perlu regulasi yang ketat

144. Kalau diatribusi kebutuhan rakyat hanya dimonopoli segelintir orang, maka akan hancurkan ekonomi rakyat

145. Pasar modern boleh berdiri. Tapi pasar tradisional juga perlu dilestarikan dan diperbaiki sarananya

146. Dalam pasar tradisional ada proses jual beli. Tawar menawar. Dan itu tradisi beratus tahun orang timur. Jadi budaya

147. Ada proses komunikasi dan interaksi antar rakyat. Ada ikatan hati yang terjalin. Dan itu mahal dalam khasanah peradaban. Jangan hilang

148. Kalau pasar tradisional digusur, maka akan hilang juga interksi dan budaya komunikasi antar rakyat. Barang sudah dilabeli. Tak ada komunikasi

149. Pasar bukan bagian dari komisi yang dibawah koordinasi FH di DPR. Tapi FH berjanji akan perjuangkan agar penyaluran dana tepat sasaran

150. Terkait konflik lahan di Kebonharjo. FH sampaikan cerita keprihatinan dan simpati atas masalah rakyat tersebut

151. Konflik lahan tak akan terjadi kalau pemerintah bisa berikan apresiasi atas hak rakyat dan kearifan aturan masa lalu

152. Konflik juga tak akan terjadi kalau ada ketegasan soal surat kepemilikan lahan yang diselesaikan. Tertib administrasi

153. Seperti kasus lahan rakyat di Luar Batang. Rakyat dirugikan. Mereka sudah beranak pinak ratusan tahun

154. Mereka bangun masjid dan itu sudah berdiri ratusan tahun. Mustahil tak ada jama’ahnya. Harusnya itu jadi tanda

155. Bahwa rakyat sudah berkuasa atas tanah di situ ratusan tahun. Beberapa genrasi lahir dan mati di sana

156. Tidak bisa serta merta seluruh cerita sejarah itu dinegasi. Disinilah kita tahu bijak tidaknya pemerintah

157. Pertemuan selesai dan mas agus mengajak FH berfoto bersama dengan seluruh awak wartawan dan rombongan

158. Cinderamata buku lambat dibawa keatas. Tergopoh-gopoh staf bawa bingkisan. Kami pamit saat magrib lewat kira-kira segelas teh hangat

159. Kami rencananya akan lanjutkan untuk sholat dan lanjtkan makan malam. Cari mangut Ndas Manyung atau Kepala Kakap

160. Mangut ndas manyung itu masakan khas Jawa Tengah. Terkenal dimana-mana. Rasanya pedas. Tapi nikmat

161. Tapi sayang. Kami gagal pergi. FH ajak kami semua belok istirahat di hotel dulu. Bersih-bersih sekalian selesaikan shalat

162. Setengah 8 malam, saya menuju kamar FH dan saya dapati masih tidur. Saya minta ke stafnya untuk bangunkan. Karena kita sudah janji

163. Mas Ganjar Pranowo minta kami menunggu di Rumjab jam 19.30 karena mas Ganjar sedang ada acara di Galeri Semarang

164. Kami akhirnya komunikasi dan putuskan menyusul ke tempat acara. Sebuah tempat di dekat Taman Srigunting Kota Lama

165. Galeri Semarang ini punya seorang pengusaha tembakau. awalnya adalah gedung milik seorang romo atau pastur gitu

166. Tempatnya menarik. Gaya arsitektur Belanda yang masih dipelihara sampai sekarang. Pernah dirobohkan pada berpuluh tahun lalu

167. Lalu dibangun dan dibuat semacam galeri. Tempat memamerkan foto dan lukisan seniman Jawa Tengah

168. Kebetulan, malam itu Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang sedang buat acara pameran foto di galeri itu

169. Judul pamerannya “momentum”. Memotret seluruh peristiwa yang terjadi di Semarang dan Jateng. Ada saat suka ada saat duka

170. Kami tiba dan langsung diajak Ganjar untuk melihat-lihat seluruh foto yang dipampang

171. Semua kejadian dan peristiwa rakyat Semarang. Kadang Ganjar atau FH berkomentar. Geli kadang juga serius

172. Setelah selesai, kami sempat berfoto dengan banyak wartawan dan penyelenggara. Mereka pakai pakaian zaman kemerdekaan

173. Semarang itu seperti Jogja, Bandung dan Surabaya. Jadi pusat pertempuran rakyat sejak sebelum kemerdekaan

174. Peradaban maju nusantara juga berpusat di daerah-daerah itu. Ada artefak dan peninggalan. Banyak jejak

175. Saat revolusi kemerdekaan, banyak peristiwa penting terjadi di Semarang. Kalau kita mau cerita, tidak selesai. Luar biasa intinya

176. Setelah foto-foto, Ganjar mengajak FH masuk ke sebuah ruangan khusus dan bicara empat mata. Ada pembicaraan penting

177. Tentang republik ini, tentang Indonesia, tentang masa depan. Dari kaca luar, mereka terlihat sangat akrab

178. FH dan Ganjar memang bersahabat. Lekat. Tak terpisahkan hanya karena beda warna

179. Pembicaraan selesai dan kami menuju sebuah hotel di dekat Simpang Lima Semarang. Ada pertemuan dengan pimpinan KNPI Jawa Tengah

180. Kami tiba dan langsung disambut oleh Danes Ketua KNPI Jawa Tengah. Anak muda yang di usia belianya sudah jadi anggota dewan

181. Bintang Yudha Daneswara namanya. Anak Bupati Kendal yang masih usia dua puluhan tapi sudah pimpin KNPI Jawa Tengah

182. Orangtuanya satu partai dengan Gubernur. Tapi mungkin bukan itu saja alasannya. Mungkin karena Danes juga punya prestasi

183. Kami berbincang tentang “Pancasila dan Masa Depan Indonesia”. Tema yang cukup serius di malam minggu. Semoga tak bosan. Haha

184. FH bicara. Masa depan Indonesia ada di tangan generasi baru. Yang hadir dengan cara-cara baru yang cerdas dan kreatif

185. Mereka punya pandangan unik, adaptif terhadap perubahan, sensitif terhadap berbagai gejala sosial

186. Generasi lama dan generasi baru mengalami benturan yang perlahan tapi pasti makin keras dan tajam. Suksesi kepemimpinan jadi medium

187. Generasi baru punyai 1001 cara dalam menyusun agenda dan menyelesaikan masalah. Mereka solid pada ide

188. KNPI bisa menjadi jembatan antar generasi sekaligus memimpin pemuda kreatif membangun bangsa. KNPI organisasi paling lengkap

189. Defenisi pemuda tidak dapat disesuaikan dgn usia semata, tapi mencakup kematangan. Orangtua juga masih ada yang kekanakan

189. Negeri kita dapatkan bonus demografi pemuda yang luar biasa. Sekitar 28-33 persen. Prasyarat utama untuk bangkitkan Indonesia

190. Cara memandang persoalan juga penting bagi generasi baru. Peristiwa kelam di masa lalu masih terus membebani bangsa

191. Pemuda punya potensi dalam menjawab persoalan bangsa di masa lalu dan mendorong rekonsiliasi nasional secara kreatif

192. Jangan sampai pemuda dijebak dalam kecemasan kolektif memandang komunisme, terorisme, narkoba, seolah sudah kiamat

193. Pemuda harusnya keluar dari itu semua, pemuda mampu membaca dan memimpin penyelesaian dengan caranya

194. Generasi tua dan pemimpin sekarang ada gejala ketidakmampuan membaca kompleksitas sehingga ingin penyelesaian instan

195. Dealing with complexity. Itu yang harus diartikulasikan oleh pemuda sekarang. Bagi kita tak rumit. Mudah saja

196. Bagi generasi lama situasi semakin rumit, karena mereka tak kompatibel lagi dengan kompleksitas yg ada

197. Partai-partai juga cenderung melakukan simplifikasi terhadap persoalan. Partai kembali menjadi oligarkhis

198. Tokoh-tokoh lama cenderung mengambil alih kuasa melalui partai dan tidak membangun tradisi demokrasi sehat

199. Demokrasi dan perubahan hanya cocok dalam mindset para demokrat, orang yang ikhlas, dan mereka yang siap berbagi peran

200. Tak ada tempat bagi selfish, monopolis dan tiran, kuasa harus terbagi. Leadership sebagai dirigen yang memimpin orkestra

201. Kita tak boleh memaksa, tidak mencemaskan orang, tidak memonopoli kebenaran, tidak mudah terbelah

202. Konflik antar organisasi pemuda juga dibahas. Inti solusi adalah soal kemampuan pemimpin merangkul seluruh potensi

203. Antar anak muda jangan dibenturkan. Semua tetua dibalik para pemuda yang bertikai diajak bicara

204. Ajak mereka untuk bicara tentang masa depan. Orangtua bertikai karena tak menemukan titik temu. Kepentingannya tak disatukan

205. Tugas pemimpin satukan itu semua. Jiwa besar dan ketulusan. Jauhkan kepentingan pribadi

206. Pertemuan selesai. Kami memberi cinderamata. Salah seorang peserta berteriak; “Hiduo Bang Fahri !”. Mereka terkesan

207. Mereka juga doakan FH jadi pemimpin negeri ini. Seperti ada kesadaran. Harus ada anak muda yang jadi juru bicara

208. Kami pamitan dan langsung menuju Kampung Laut Semarang. Lokasi sekitar Tawang. Dekat dengan Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP)

209. Di malam har tempat itu indah sekali. Bangunan di atas Laut Marina. Semua terbuat dari kayu. Dengan desain yang cantik

210. Resto ini cocok untuk kumpul keluarga. Banyak pilihan makanan. Dan tempat duduknya menarik. Bisa untuk pesta nikahan

211. Kami pesan banyak makanan dan semua makan dengan lahap. Tidak sia-sia menunda. Semua jadi kalap. Hahaha. Alhamdulillah

212. Kami pulang dan istirahat di hotel jam 00 malam. Sedianya mau adakan nobar. Tapi karena fisik sudah sangat lelah, kami nonton sendiri-sendiri

213. Kami istirahat untuk esok harinya menuju perjalanan pulang. Bismika allahuma ahya wa bismika amut

214. Jam 7 pagi saat sarapan, kami dapat kunjungan dari seorang saudara. Gus Par, salah satu senior di KAMMI yang terjun di kebudayaan

215. Gus Par. Atau Agus Rahmat adalah salah satu pentolan aktivis masjid kampus STAN di zamannya

216. Pernah jadi Ketua Masjid Kampus STAN. Ia seniornya Ustadz Nurhuda Trisula (almarhum) yang jadi pendekar dakwah di Kaltim

217. Surau Kami, lembaga yang diinisiasi Guspar adalah lembaga kebudayaan yang ambil religius sebagai dasar dan sudut seni

218. Guspar mengambil jalan berbeda. Jadikan budaya sebagai media dakwah generasi muda. Luar biasa

219. Ada pertunjukan teater, pembacaan seni atau musik dan pertunjukan seni lainnya. Surau Kami meriah. Wajib dikunjungi

220. Guspar bicara dengan FG dan setelahnya kami foto bersama. Ada haru yang menyeruak

221. Kami berpisah dan masing-masing menyiapkan tas lalu berkumpul di lobi untuk selanjutnya menuju bandara

222. Pesawat kami berangkat setengah sepuluh. Kami tinggalkan Semarang. Kota perjuangan yang menyenangkan

223. Selamat tinggal. Jaga semangat dan tetaplah menginspirasi. Wassalam

 

Check Also

Fahri Minta MUI Fatwakan Haram Kunjungan Ke Israel

Jakarta, Findonews.com  – Kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf menghadiri konferensi tahunan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *