Wednesday, 14 November 2018
Home / Berita Utama / Terima kasih kepada Mesir karena 22 MARET 1946

Terima kasih kepada Mesir karena 22 MARET 1946

Foto : Internet

Oleh Agung Pribadi (Historivator)

Sebelum tanggal 22 MARET 1946 masalah Indonesia selalu diklaim Belanda sebagai masalah dalam negeri Belanda karena Belanda tetap mengklaim Indonesia sebagai wilayah jajahannya.

Sebelum 22 MARET 1946 belum lengkap syarat negara Indonesia secara de jure walaupun secara de facto Indonesia sudah berdiri sejak 17 AGustus 1945.

Sebelum 22 MARET 1946, negara-negara di luar Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mau ikut campur urusan Indonesia karena dianggap sebagai masalah dalam negeri Belanda.

Sebelum 22 MARET 1946, dunia internasional belum mau mengurusi masalah Indonesia walaupun terjadi peperangan di Indonesia dan banyak korban jiwa.

Sebelum 22 MARET 1946, delegasi Indonesia seperti sutan sjahrir, haji agus salim, soedjatmoko, LN Palar tidak boleh masuk ke sidang majelis umum PBB.

Apa yang terjadi pada tanggal 22 Maret 1946? Itu adalah tanggal ketika ada sebuah negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya.

Negara itu adalah Mesir. Sejak mesir mengakui kemerdekaan Indonesia. Negara-negara di Timur Tengah dan Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO berduyun-duyun mengakui kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya itu Indiapun kemudian mengakui kemerdekaan indonesia.

Sejak saat itu Indonesia boleh diwakili oleh sebuah delegasi dalam sidang Majelis Umum PBB. Dan masalah Indonesia mulai dibicarakan di PBB. Amerika Serikat dan beberapa anggota PBB juga sering mendesak Belanda untuk mau duduk di meja perundingan dan menghentikan agresi militernya.

Selain kepiawaian Haji AGus Salim untuk melobi Negara-negara Timur Tengah hal ini juga terjadi karena dukungan dari gerakan-gerakan Islam di Timur Tengah pada umumnya dan Mesir pada khususnya.

Berawal dari Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, Mesir yang membaca di Majalah Vrij Netherland yang memberitakan bahwa Negara Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya, iapun kemudian memberitahukannya kepada Koran-loran dan rasio di Mesir. Rakyat Mesir dan anggota-anggota organisasi Islam menyambut gembira. Loran-koran dan radio mesir mengatakan bahwa ini adalah awal kebangkitan di dunia Islam. Juga dinyatakan ini adalah awal dari kemerdekaan negara0negara di dunia Islam untuk terbebas dari belenggu penjajahan Negara-negara Barat.

Pada tanggal 16 Oktober 1945 sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Ikhwanul Muslimin yang berpusat di mesir dan diketuai oleh Hassan Al Banna menjadi unsure utama organisasi ini.

Sejak itu Ikhwanul Muslimin dengan melalui organisasi ini sering mengadakan demo besar0besaran mendesak pemerintah Mesir untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Para kelasi kapal yang bekerja di kapal-kapal Inggris banyak yang melakukan pemogokan bahkan berhenti bekerja dan mengajukan tuntutan kepada pemerintah INggris supaya jangan memabantu Belanda terus menerus. Bahkan ada mahasiswa Indonesia yaitu Mohamman Zein Hassan yang berkerja di kapal Inggris di Tunisia yang berhenti bekerja di kapal Inggris itu dan berjalan kaki dari Tunisia ke Mesir. Ketika ia ditanya kenapa ia berjalan kaki sejauh itu ia menjawab, “Seluruh perusahaan transportasi dari Tunisia ke Mesir adalah milik Inggris dan ulama-ulama di Mesir mengharamkan bekerja sama dengan Inggris yang membantu Belanda menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia!”

Saat itu Ikhwanul Muslimin juga membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Mesir untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di Koran-koran dan majalah milik mereka.

Ketika terjadi pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan banyak Koran dari pihak Indonesia, IKwanul Muslimin dan gerakan-gerakan Islam lainnya mengadakan sholat ghaib berjamaah di banyak tempat di Mesir.

Atas desakan ikhwanul muslimin dan organisasi-organisasi Islam lainnya akhirnya Negara Mesir di bawah pimpinan Raja Farouk mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Setelah itu pemerintah Mesir mengirimkan utusan khususnya yang membawa surat pengakuan itu untuk menemui Presiden Soekarno di ibukota RI, Yogyakarta. INi adalah perjuangan berat karena saat itu Indonesia diblokade Belanda. Perlu keberanian dan keterampilan khusus seperti John Lie untuk menembus blokade Belanda (lihat tulisan penulis di http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/04/pahlawan-nasional-dari-etnis-tionghoa-refleksi-imlek-2011/ ).

Ketika Belanda melakukan agresi militer pertama tahun 1947 para buruh anggota IKhwanul Muslimin sering mencegat kapal-kapal Belanda di Teruzan Suez yang saat itu dinyatakan milik internasional. Ketika kapal Belanda Volendam mendarat di Port Said. Beberapa motor boat yang dikendarai buruh pelabuhan dan anggota-anggota IKwanul muslimin. Mengeliligi kapal itu dan mencegah kapal-kapal lain mendekat dan menyuplai air mibum kepada kapal Belanda tersebut.

Pemerintah Mesir juga menyalurkan bantuan lunak uang kepada pemerintahn Indonesia yang kas nya masih kosong, sungguh sebuah bantuan yang sanagat berarti. Hal ini kemudian diikuti oleh Negara-negara Timur Tengah lainnya.

Jadi Peran Mesir yang dipelopori oleh Ikhwanul Muslimin dan gerakan-gerakan Islam lainnya sangatlah besar dan berarti buat Indonesia. Jadi sangatlah wajar kalau pemerintah dan rakyat Indonesia saat ini mau menolong Mesir dan Palestina dalam menyelsaikan masalah mereka karena hubungan historis yang sangat kuat. Di Mesir juga ada Jalan Ahmad SOekarno yang diambil dari nama Presiden Pertama Republik Indonesia.

Check Also

Hutang ke Bank Asing Rp 18 Triliun, Semen Indonesia Akuisisi Holcim

Jakarta, Findonews.com – PT Semen Indonesia Tbk memperoleh pinjaman dari beberapa bank asing yang jumlahnya US$ …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *