Sunday, 21 October 2018
Home / Berita Utama / Suara-Suara Dunia Maya

Suara-Suara Dunia Maya

Foto : Internet

 

Oleh : Endy Kurniawan (Konsultan Media, Penulis Buku dan Pengamat Politik & Dunia Digital

Berbagai riset bisa menelorkan hasil berbagai rupa pula. Riset berdisplin akan menghasilkan hasil terpercaya, sementara riset abal-abal bisa merilis hasil suka-suka dia. Di tahun yang makin memanas menuju perhelatan Pilkada 2018 dan Pileg-Pilpres 2019, beragam survei popularitas hingga elektabilitas, keluarkan masing-masing versinya. Seringnya hasilnya membingungkan. Lalu masing-masing pihak akan gunakan hasil riset manapun yang menguntungkan, untuk berbagai keperluan. Maka wajar Wakil Ketua DPR Fadli Zon pernah membuat pernyataan : “Saya lebih percaya survei di media sosial.” Pernyataan Fadli Zon sangat beralasan.

Di media sosial, jangkauannya jauh lebih besar. Total pengguna internet tahun 2016 menurut APJII berjumlah 132,7 juta orang. Dari jumlah itu, hanya 7,9 juta yang menggunakannya semata untuk berselancar tanpa menyentuh media sosial. Artinya 94,5% adalah pengguna media sosial. Artinya lagi, hampir 100% pengguna internet Indonesia merasa ‘wajib’ bermedia sosial. Itu yang pertama. Alasan kedua, jejak digital lebih mudah diverifikasi. Riset media sosial dan internet bisa dilacak, terbuka dan transparan. Dengan fitur ‘verified account’ yang diterapkan hampir semua penyedia platform sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube, responden bisa diseleksi. Ketika ‘data crawling’, periset bisa membersihkan fake account keluar dari real account.

Jadi bandingkan riset ‘offline’ dengan ‘online’. Berapa responden riset offline? Seribu dua ribu. Maribu sudah keren banget. Riset di media sosial memungkinkan mengumpulkan jutaan orang dalam waktu pendek. Bahkan ‘mengumpulkan’ disini tidak perlu didatangi satu-satu. Kan jadinya makan waktu. ‘Media intelligence engine’ memungkinkan periset gunakan tombol untuk setting perimeter, atur periode waktu, di kanal apa, untuk isu apa. Lalu periset tinggal membaca dan menganalisisnya. Fitur analisis terhadap teks pun saat ini membuat mesin bisa membaca mood dan emosi. Proses ini bisa sangat cepat.

Di era keterbukaan seperti sekarang, kredibilitas menjadi sesuatu yang mewah. Kita agak terganggu dengan hasil sebuah lembaga riset yang asal bikin kaget. Lembaganya baru terdengar dan belum kredibel. Kontroversi itu dirayakan dengan jumpa pers dan rilis media. Sudah gitu, sumber dan respondennya tidak bisa kita lacak. Ini persoalan kedua metode riset offline yang sering mengundang pertanyaan dan harus terus ditantang, yaitu masalah transparansi metode, responden dan pengolahan.

Belakangan beberapa riset online (baik online media dan social media), termasuk terakhir riset resmi yang menggunakan tagar #rameditwitter oleh Twitter.ID, mulai mengeluarkan bacaan peta media yang makin bisa kita jadikan referensi. Indonesia Media Intelligence (IMM), beberapa tahun terakhir mengeluarkan rilis resmi hasil riset onlinenya. Dua bulan lalu, lembaga riset RADIAN (Radar Media Nasional) juga mempublikasikan riset ilmiah berbasis online, salah satunya menempatkan Fadli Zon dan Fahri Hamzah, politisi Senayan sebagai leading icon di jagat media nasional. Setelah hampir satu dasawarsa booming media sosial di dunia, rasanya sekarang sudah masuk fase ‘mature’. Data yang dikumpulkan makin terfilter dan sepenuhnya representasi fakta.

Check Also

Anies ke Djarot soal Kelamaan Jomblo: Berkaca Dulu

Jakarta, Findonews.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merespons Djarot Saiful Hidayat terkait posisi kosong Wakil Gubernur DKI usai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *