Thursday, 15 November 2018
Home / Berita Utama / Rupiah Terperosok, BI Klaim Sudah Intervensi Besar-besaran

Rupiah Terperosok, BI Klaim Sudah Intervensi Besar-besaran

Jakarta, Findonews.com – Bank Indonesia mengaku sudah melakukan intervensi dalam jumlah besar hingga kemarin (23/4), guna menstabilkan nilai tukar  rupiah. Kendati demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin masih melemah hingga terperosok ke level Rp13.975 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) maupun Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah besar guna menstabilkan nilai tukar rupiah kemarin. Alhasil, menurut Agus, pelemahan (depresiasi) rupiah lebih rendah dari mata uang sejumlah negara emerging market lainnya.

“Dengan upaya tersebut (intervensi), rupiah pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70 persen, pada hari Senin ini hanya melemah 0,12 persen, lebih rendah daripada depresiasi yg terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya,” ujar Agus di Washington DC, melalui keterangan resmi, Selasa (24/4).

Agus merinci, pada perdagangan kemarin, peso Filipina melemah 0,32 persen, rupe India 0,56 persen, baht Thailand 0,57 persen, peso Meksiko 0,89 persen, dan rand Afrika Selatan.
Gambaran serupa, diklaim Agus, juga tampak pada periode yang lebih panjang. Sejak awal tahun ini, rupiah melemah 2,35 persen. Pelemahan tersebut lebih rendah dibanding rupe India sebesar 3,92 persen, peso Filipina 4,46 persen, dan real Brazil 3,06 persen.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak Jumat (20/4) terjadi akibat menguatnya dolar AS secara tajam. Tak hanya rupiah, pelemahan nilai tukar mata uang dialami hampir semua negara.

Kondisi tersebut pun berlanjut hingga kemarin, Senin (23/4), yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat utang AS (AS treasury bill) dan kembali munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) lebih dari tiga kali tahun ini.

Agus menegaskan bahwa pihaknya akan terus mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah. Selain dipicu dampak global, seperti kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik, pelemahan rupiah juga dapat bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik. Kenaikan permintaan valas biasanya cenderung meningkat di kuartal tiga, seiring kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan pembayaran dividen.

“Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya,” ungkap dia.

Check Also

Lagi, Stefan Bradl Akan Gantikan Crutchlow Di GP Valencia

Findonews.com – Stefan Bradl dipastikan akan kembali menggantikan peran Cal Crutchlow pada seri pamungkas MotoGP. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *