Wednesday, 26 September 2018
Home / Berita Utama / Rupiah Masih Melemah, Industri Elektronik Merosot

Rupiah Masih Melemah, Industri Elektronik Merosot

Foto : Internet

Jakarta, Findonews.com – Nilai tukar rupiah yang masih melemah membuat daya beli masyarakat pada industri elektronik kian merosot.

Daniel Suhardiman, Ketua Bidang Home Appliances Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) mengatakan, kinerja industri elektronik merosot sekitar 10 persen. “Masyarakat semakin cerdas dan tidak lagi konsumtif untuk elektronik. Pola konsumsi masyarakat berubah,” ujarnya.

Daya beli masyarakat tidak sebanding dengan jumlah keluarga di Indonesia yang terus bertambah. “Permintaan tidak tumbuh, padahal keluarga di Indonesia tidak ikut berkurang dan malah bertambah,” ungkapnya.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I-2018, kinerja sektor ini terko­reksi 2,41 persen. Kondisi ini melanjutkan tren perlambatan pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun lalu sebesar 0,27 persen.

Daniel juga menambahkan, pele­mahan nilai tukar rupiah ter­hadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penurunan penjualan elektronik. Para pro­dusen terpaksa menaikkan harga jual karena 70 persen bahan baku merupakan produk impor. “Belakangan ini beberapa merek sudah menaikkan harga. Dampaknya berasa. Pada Juli hingga Agustus, penjualan mulai lesu,” jelasnya.

Selain itu, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) mem­buat kualitas produk elektronik dalam negeri meningkat sehingga lebih tahan lama. Dengan demikian, usia produk yang dimiliki masyarakat bertambah panjang dan waktu replacement semakin mundur.

Sedangkan Ketua Umum Gabel, Ali Subroto mengatakan, menaikan harga produk tidak bisa dihin­dari. Namun, pengusaha tetap menerapkan siasat agar pen­jualan produk elektronik tetap tumbuh. “Kenaikan pasti hingga 2 persen, tetapi kalau biasanya nunggu model baru bisa. Tapi se­mentara itu pengusaha menderita kerugian ya umum,” ujarnya.

Ali mengaku, permintaan barang elektronik cenderung turun. Misalnya televisi yang permintaannya turun sekitar 10 persen sejak 2015. “Produksi negatif, dari 2015 me­mang negatif. Perkiraan sejak 2015 turun lebih dari 10 persen. Contoh kalau TV kebutuhan di atas 4 juta per tahun, sekarang tinggal 3,8 juta per tahun,” ucap Ali.

Pola konsumsi masyarakat yang sekarang lebih banyak mengalokasikan penge­luaran untuk pariwisata bukan belanja barang menjadi faktor yang mempengaruhi penjualan. “Permasalahannya itu sulit, demand itu turun, orang seka­rang itu belanja di pariwisata. Jadi keinginan untuk memi­liki barang berkurang. Jadi ada dampak internal dan eksternal,” jelas Ali.

 

Check Also

Emmanuel Marcon : Unilateral Tidak Bisa Jadi Solusi Konflik Israel-Palestina

Jakarta, Findonews.com – Unilateral atau kerjasama yang hanya diputuskan secara sepihak tanpa adanya persetujuan dari pihak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *