Friday, 16 November 2018
Home / Berita Utama / Rupiah Anjlok Lagi ke Rp 14.800 per USD

Rupiah Anjlok Lagi ke Rp 14.800 per USD

Foto : Internet

Jakarta, Findonews.com –  Hingga pagi ini, Jumat (31/8/2018); nilai tukar rupiah terhadap dolar atau kurs kembali menurun, yakni dari sebelumnya sebesar Rp 14.734 per USD pada Kamis (30/8/2018) naik menjadi Rp 14.800 per USD pada pukul 07.00 WIB.

Penurunan kurs rupiah terhadap dolar itu disesalkan seluruh pihak. Salah satunya adalah Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera.

Lewat status twitternya @MardaniAliSera, dirinya menyesalkan keadaan.

“Rupiah kita terus melemah,” tulis Mardani diakhiri tagar #2019GantiPresiden.

Panji Nugraha, Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI) mengatakan, anjloknya nilai tukar rupiah ke level Rp 14.800 per dolar AS adalah catatan terburuk pengelolaan ekonomi sepanjang orde reformasi. Menurutnya pemerintah semestinya mampu memberikan solusi jitu agar dapat menekan dolar AS agar tidak perkasa, salah satunya memperbanyak kuota ekspor. “Akan tetapi sangat disayangkan pemerintah tidak mampu merespon gejala pelemahan rupiah yang kian kritis dengan membuak impor 2 juta ton beras dan gula dengan target 3, 6 juta ton di saat stok beras dan gula masih surplus di dalam negeri,” terangnya, Jumat (31/8).

Anjloknya rupiah bukan hanya dimaknai sebagai ekses dari perang dagang AS dan China saja. Pelemahan rupiah perlu dikaji bukan hanya dari faktor eksternal tetapi faktor internal khususnya soal perdagangan.

“Untuk mengangkat rupiah agar perkasa fundamental ekonomi Indonesia perlu diperbaiki khususnya soal pengelolaan ekspor impor, tetapi persoalan tersebut seolah dihiraukan, Menteri Perdagangan era Presiden Jokowi malah membuka keran impor yang justru akan membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk,” jelasnya.

Ditjen Perdagangan Luar Negeri ingin membatasi impor tetapi Kementerian Perdagangan sendiri mengeluarkan kebijakan impor beras dan gula. Hal tersebut sangat membingungkan. “Seharusnya melihat kondisi ekonomi makro Indonesia yang tidak tentu arahnya Jokowi mampu memanajemen para menteri-menteri dan pejabatnya agar tidak jalan sendiri-sendiri,” tambahnya.

Pasalnya, kebijakan yang inkonsistensi jelas akan dicatat sebagai kebijakan negatif oleh pasar yang pada akhirnya pertumbuhan ekonomi akan stagnan atau jalan di tempat di angka 4 persen – 5 persen.

“Artinya jika tidak ada pertumbuhan ekonomi yang baik, investor pun akan enggan untuk investasi di Indonesia,” tutupnya.

Check Also

Belum Fit 100%, Lorenzo Siap Lakoni Penampilan Terakhirnya Bersama Ducati

Findonews.com – Belum sepenuhnya pulih, Lorenzo siap lakoni penamilan terakhirnya bersama Ducati musim ini. Jorge …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *