Saturday, 21 July 2018
Home / Berita Utama / Rizieq, Antara Petuah dan Komoditas Panas di Tahun Politik

Rizieq, Antara Petuah dan Komoditas Panas di Tahun Politik

Jakarta, Findonews.com – Rizieq Shihab dianggap masih memiliki pesona meski hampir setahun ‘mengungsi’ ke Arab Saudi. Banyak pihak yang rela melawat ribuan kilometer jauhnya hanya demi bertemu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) ini.

Calon Gubernur Jawa Barat Sudradjat, contohnya, mengaku bertemu Rizieq sembari melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci. Meski memang, ia tidak menyebut agenda pertemuan politik di sana.

“Alhamdulillah, baru saja saya kembali menjalankan ibadah umrah. Saya berkesempatan di sana mengunjungi almukarom Habib Rizieq, saya bertemu,” kata calon gubernur Jabar nomor urut 3 ini di hadapan Majelis Taklim Syababul Kheir di kawasan Sirkuit Sentul, Bogor, Sabtu (5/5) malam.

 

Ini bukan kali pertama Rizieq disambangi elit politik. Bulan Maret silam, Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade juga bertemu Rizieq di Mekah. Dalam pertemuan itu, Rizieq meminta partainya lekas berkoalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Bulan Bintang (PBB) pada Pilpres 2019 mendatang.

“Habib (Rizieq) meminta agar Gerindra, PKS, PAN, dan PBB berkoalisi untuk menggantikan rezim Jokowi yang sekarang,” tuturnya.

Bahkan, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Erwin Moeslimin Singajuru juga mengaku bertemu Rizieq. “Silaturahim, tadi malam, di kediamannya di Mekah. Bicara kemaslahatan umat,” ujarnya seperti dilansir dari Detikcom.

Meski jauh dari tanah air, Rizieq masih dianggap punya peranan penting, terlebih memasuki tahun politik.

 

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Muradi mengakui hal itu. Dia melihat setidaknya ada dua hal yang bikin Rizieq diburu elit politik saat ini.

Pertama, Rizieq dianggap memiliki ‘daya magis’ dalam hal mendongkrak elektabilitas. Tak heran, selaku petinggi FPI, ia bisa menggerakkan anggotanya yang jumlahnya tak sedikit.

Yang kedua, saat ini Rizieq diklaim menjadi simbol kekuatan umat Islam yang selama ini dianggap tak pernah ada representasinya. Meski hal tersebut masih menjadi subjek perdebatan.

“Ada soal figuritas yang coba dimunculkan. Ada persepsi bahwa dengan mengambil hati Rizieq, maka itu artinya mengambil simpati umat Islam juga. Meski memang, hal itu kan belum tentu benar. Sebab, tentu ada umat Islam lain yang tak sepakat dengan Rizieq,” ujar Muradi.

Ia melanjutkan, ada kemungkinan elit politik menghampiri Rizieq mengingat perannya kala Pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu cukup krusial. Sebab, ia menilai, salah satu alasan kalahnya petahana Basuki Tjahaja Purnama dari Anies Baswedan adalah kampanye penolakan penista agama melalui aksi berjilid-jilid.

Secara langsung, aksi itu berhasil mempengaruhi pola pikir pemilih untuk tidak mencoblos Ahok, yang kala itu sudah keburu dicap “penista agama”.

 

Namun menurutnya, daya tarik Rizieq tidak melulu jadi jaminan dalam mendulang elektabilitas. Sebab, dinamika politik masing-masing daerah tentu berbeda dengan Jakarta. Pengaruh Rizieq di Pilgub DKI Jakarta, lanjut Muradi, ampuh karena ada momentum. Yakni, beredarnya video Ahok yang bicara soal surat Al Maidah ayat 51.

Bahkan, gara-gara kondisi di Pilgub DKI Jakarta, justru malah timbul persepsi buruk. Seolah-olah pesta politik bisa dimenangkan hanya dengan menggerakkan massa yang manut-manut pada ucapan Rizieq.

“Mungkin elit politik ini tidak cukup cerdas. Politik momentum seperti Jakarta ini susah dilakukan di wilayah lain mengingat dinamika politik sangat berbeda. Kalau setiap daerah konteksnya diarahkan ke sana, malah justru tidak nyambung. Rizieq dianggap sebagai simbolisasi harapan, tapi belum terbukti betul,” tegas dia.

Pengamat Politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat menuturkan, Rizieq tentu menyadari bahwa ia bukanlah sekadar sosok biasa. Basis massa yang luas bikin elit politik harus pintar-pintar membangun komunikasi dengannya. Makanya, Rizieq tidak sekadar mewakili entitas tunggal, namun mewakili sekelompok orang yang punya loyalitas tinggi.

Karenanya, adalah hal lumrah jika nanti Rizieq meminta imbal balik dari komunikasinya dengan elit politik. Salah satunya pasti terkait dengan kasus hukum yang menyangkut namanya.

Rizieq, Antara Petuah dan Komoditas Panas di Tahun Politik

Baru-baru ini, Polda Jawa Barat memang telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk Rizieq dalam kasus dugaan penghinaan Pancasila. Hanya saja, Rizieq perlu menghadapi tujuh laporan lain yang tercatat di Polda Jabar dan Polda Metro Jaya.

Selain itu, Cecep menganggap, Rizieq tak punya kendaraan politik, namun punya dukungan politik yang cukup massif.

“Tentu ada timbal balik antara dukungan yang diberikan dengan penuntasan masalah hukum yang menyangkut dirinya,” kata Cecep.

Udang di Balik Batu

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menambahkan Rizieq dianggap sebagai pemimpin umat Islam berdasarkan survei kedaikopi yang melibat 1.135 koresponden di 34 Provinsi. Popularitas Rizieq dianggap melejit setelah aksi 212 terkait kasus penistaan agama oleh Ahok. Rizieq kala itu dianggap sebagai panglima utama yang menggelorakan suara umat Islam untuk melawan penista agama.

“Posisi Habib Rizieq sekarang itu memang agak berbeda semenjak ada gerakan 212. Berdasarkan survei kami, Habib Rizieq nomor satu, dianggap koresponden sebagai pemimpin umat Islam. Saat ini posisi Rizieq sangat strategis dari segi popularitas,” kata Hendri saat dihubungi Findonews.com.

Check Also

Rakyat Papua Tidak Bangga Jadi Indonesia di Era Jokowi

Jakarta – IRONIS! Memang, judul ini sedikit keras, sekeras kepala batunya orang Papua dan sekasar-kasarnya orang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *