Sunday, 19 November 2017
Home / Berita Utama / Reputasi Pembantaian Massal Yang Dilakukan Oleh Komunisme

Reputasi Pembantaian Massal Yang Dilakukan Oleh Komunisme

Foto : Findonews

Oleh: Agung Pribadi (HIstorivator)

Sejarah mencatat bahwa pembantaian yang dilakukan komunis ketika mereka berada di atas angin bukanlah isapan jempol. Itu terjadi sejak awal komunis berdiri, sampai puluhan tahun hingga akhirnya ideologi ini mulai ditinggalkan. Kekejaman komunis terlihat dari masuknya empat tokoh komunis, yaitu Stalin, Mao Tse Tung, Lenin, dan Pol Pot ke dalam Sepuluh Tokoh Terkejam di Dunia versi majalah Publizer.

Revolusi Bolshevik yang dipimpin Lenin pada tahun 1917 berhasil menjatuhkan Tsar Nicholas II dan mendirikan negara komunis, memang berhasil tanpa banyak menumpahkan darah. Karena saat itu dunia masih buta dengan apa sebenarnya konsep komunisme itu, sehingga revolusi tersebut didukung penuh militer dan nyaris tanpa perlawanan. Banyak yang mengira komunisme adalah jalan keluar bagi Rusia untuk lepas dari kelaparan dan kehancuran setelah dilanda kesulitan berkepanjangan akibat Perang Dunia I. Akan tetapi, ketika tidak ternyata banyak terjadi perubahan, maka mulai ada pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintahan komunis.

Ketika mulai ada perlawanan, baru komunisme menunjukkan jati dirinya sebagai ideologi yang tak segansegan menghabisi siapa pun lawannya.  Ketika kebijakan komunisme mulai diterapkan Lenin, jutaan korban berjatuhan. Wikipedia mencatat lima juta orang tewas akibat kebijakan Lenin selama menerapkan kebijakan komunisme, terutama akibat kelaparan.

Puncak pembantaian komunisme di Rusia terjadi pada masa pemerintahan Stalin, pengganti Lenin. History Channel mengungkap bahwa Stalin sudah membunuh sekitar 20 juta orang pada masa pemerintahannya, kira-kira hampir setara dengan jumlah orang yang menjadi korban Hitler. Bagi Stalin, kematian rakyat hanya masalah statistik belaka, sebagaimana dikutip dari kata-kata yang terkenal, “The death of one man is a tragedy. The death of millions is a statistic.” (Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian jutaan orang hanyalah statistik saja). Tak heran Stalin begitu entengnya membunuh jutaan orang.

Di Cina, komunis juga tak kalah kejamnya. Sejak 1949 sampai akhir abad ke-20 kematian tidak wajar akibat Partai Komunis Cina diperkirakan jumlahnya mencapai 80 juta orang. Jumlah korban yang dua kali lebih banyak daripada korban Perang Dunia. Dari 80 juta orang ini, 40 juta orang mati kelaparan hanya dalam waktu dua tahun saja ketika kebijakan Lompatan Jauh ke Depan dari Mao Tse Tung diterapkan dengan paksaan.

Oleh Harun Yahya kelaparan ini disebut sebagai kelaparan terdahsyat dalam sejarah umat manusia. Mao Tse Tung juga melakukan pembersihan etnis terhadap muslim Uighur di Xinjiang, Turkistan Timur.

Jutaan orang dibantai di sana oleh Mao Tse Tung, dan kebijakan ini dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu Deng Xiaoping. Antara 1949 sampai dengan 1975, 26 juta muslim Uighur dibunuh oleh rezim komunis dengan berbagai cara. Sejak 1964 dilakukan 46 uji coba nuklir yang menyebabkan kematian 210 ribu orang muslim Uighur dan jauh lebih banyak lagi yang menjadi cacat permanen.

Sebelum pembersihan etnis ini dilakukan, kaum muslim berjumlah 75% dari populasi di Turkistan Timur, tapi setelah pembersihan etnis (baca: pembunuhan massal) populasi muslim Uighur menjadi 35% di Turkistan. Sungguh sebuah kekejaman yang tiada tara. Di Kamboja ada juga tokoh komunis yang tidak kalah kejam, Pol Pot. Di sebuah ladang hanya 15 kilometer di luar kota Phnom Penh, ibu kota Kamboja, ia membantai
lebih dari 17 ribu orang secara brutal. Tempat itu kini dikenal sebagai The Killing Fields of Choeung Ek.

Dalam kurun tahun 1975-1979 saat Pol Pot berkuasa, hampir dua juta rakyat Kamboja tewas karena wabah kelaparan atau dieksekusi di ladang-ladang pembantaian. Tentara Pol Pot mengeksekusi korban dengan banyak cara. Mereka tidak menembak para korban dengan senjata api, karena harga peluru terlalu mahal.

Sebagai gantinya, digunakan pisau, pedang, bambu tajam, bahkan juga alat-alat pertanian seperti sabit dan linggis. Untuk korban anak-anak, cara eksekusinya lebih mengerikan. Tentara Pol Pot menghabisi nyawa bocahbocah tak berdosa dengan membenturkan kepala korban ke batang pohon besar sampai remuk. Tampaknya kisah-kisah ini cukup menggambarkan reputasi komunisme ketika berkuasa.

Check Also

Marquez Kuasai Tes Hari Ke-2 Valencia

Findonews.com – Hari kedua tes di Sirkuit Ricardo Tormo menjadi milik Juara Dunia 2017 Marc …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *