Sunday, 19 November 2017
Home / Berita Utama / Pulau Biak & Owi, Sepenggal Kisah Klasik Perang Pasifik

Pulau Biak & Owi, Sepenggal Kisah Klasik Perang Pasifik

Foto : Findonews
Foto : Findonews

Papua – Biak di Papua dan Morotai di Maluku Utara adalah dua pulau di Indonesia yang sempat terlibat langsung dalam akhir Perang Pasifik. Babak akhir gelombang pasukan Amerika yang memasuki Indonesia bertugas mengusir Jepang, menggunakan pulau Indonesia sebagai pangkalan.

Pangkalan Amerika yang berbasis di Hawaii melebarkan penaklukan hingga ke seluruh Pasifik, kemudian perlahan menuju jantung kota Tokyo, dalam rangka mengalahkan Jepang yang kelihatan ingin mengambil untung di wilayah Asia Tenggara. Jepang juga hadir di Indonesia dengan propaganda “saudara tua” yang akan menyelamatkan wilayah dari serangan Sekutu, paska Belanda menarik diri.

Foto : Findonews
Foto : Findonews

Amerika membawa pasukannya ke Guam, Iwo Jima, juga Biak dan Morotai untuk head-to-head dengan Nippon. Yang unik, di Kabupaten Biak, tepatnya di Pulau Owi, Amerika membangun pangkalan dilengkapi dengan 3 landasan udara besar (runway terpanjang sepanjang 3,7 km). Nippon, di satu sisi, menggunakan pulau Biak sebagai titik bertahan. Sisi terdekat Pulau Biak dan Pulau Owi berjarak hanya sekitar 5 km. Amerika dan Nippon saling berhadapan dan saling mengintai.

Pulau Owi sendiri tampak tak tersentuh serangan Jepang. Sebaliknya pertahanan Nippon di Pulau Biak hingga kini menyisakan situs kehancuran gua-gua pertahanan karena bombardir Amerika. Hingga kini, wisatawan masih bisa menyaksikan museum kecil di gua Jepang berikut senjata pertahanan udara yang mereka gunakan saat melawan. Konon, 200 serdadu Jepang tewas di gua tersebut dan pecahan proyektil bom yang dijatuhkan Amerika masih bisa dilihat hingga kini.

Foto : Findonews
Foto : Findonews

Usai Jepang membombardir pangkalan Amerika di Pearl Harbour, Hawaii, Amerika berang lalu menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah kalah. Dan momen itulah yang mengakhiri rangkaian Perang Dunia II sepenuhnya.

Kini, Pulau Owi menjalani keseharian dengan kearifannya. Gereja, sekolah dan sarana aktivitas sosial warga, tampak sangat sederhana. Landasan udara besar Amerika masih kokoh meski dirambati tumbuhan dimana-mana. Simon, yang lahir pada 1927 sebagai warga asli Pulau Owi, menjadi saksi tiga masa. Saat Owi tak terusik apapun, saat Perang Pasifik terjadi, hingga masa kemerdekaan, pulau kecil ini kurang dikenal orang dan terisolasi.

Isolasi dan distrust terhadap kemandirian wilayah juga menjadi persoalan umum berbagai berbagai wilayah di Papua. Perhatian pemerintah Indonesia terlalu ke ‘barat’. Sesuatu yang harus segera diatasi agar masalah utama yaitu kesejahteraan di wilayah timur Indonesia segera punah.

Check Also

Marquez Kuasai Tes Hari Ke-2 Valencia

Findonews.com – Hari kedua tes di Sirkuit Ricardo Tormo menjadi milik Juara Dunia 2017 Marc …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *