Monday, 20 November 2017
Home / Berita Utama / Mohammad Hatta Pun Menyebut Pribumi Dan Cina

Mohammad Hatta Pun Menyebut Pribumi Dan Cina

Foto : Inet

OLEH: AGUNG PRIBADI

SEJARAWAN, HISTORIVATOR, PENULIS BUKU BEST SELLER “GARA GARA INDONESIA”

Pidato Gubernur Baru DKI Jakarta, Anies Baswedan yang menyoal ketimpangan ekonomi antara pribumi dan non pribumi menjadi viral dan mengundang kontroversi. Apakah salah kata-kata yang diucapkan cucu dari AR Baswedan -salah seorang founding Father Indonesia- ini?
Mari kita lihat pendapat Founding Father dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta.
Mohammad Hatta pernah mengusulkan untuk memperkuat pedagang pribumi dan memberikan tarif sewa yang lebih mahal kepada pedagang Cina.

Hal ini diungkap Deliar Noer dalam bukunya, Mohammad Hatta, hal. 665 sebagai berikut: “Oleh sebab
itu ia (Mohammad Hatta-pen) mengusulkan kepada gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin agar pasar yang sudah dibangun baru, jangan diberikan kepada pedagang yang memberikan penawaran tertinggi, karena hal itu akan berarti bahwa pasar itu akan jatuh kepada pedagang Cina.

Sebaliknya, katanya (Hatta-pen) ditetapkan berapa ruang yang diperuntukkan kepada pedagang Indonesia asli dan berapa pula yang diperuntukkan kepada pedagang Cina. Tentu bagian terbanyak disediakan untuk pedagang Indonesia asli. Dan sewanya ditentukan pula menurut keadilan sosial. Orang Cina harus membayar lebih tinggi daripada orang Indonesia asli”.

Hatta memang termasuk yang paling vokal dalam mengritik ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Mari kita lihat pendapat Bung Hatta soal ketimpangan Ekonomi, pada Pidatonya dalam seminar PENJABARAN PASAL 33 UUD 1945 (6-7 Okt 1977). Berikut petikannya:
“Pada masa yg akhir ini negara kita masih berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, tetapi politik perekonomian negara di bawah pengaruh teknorat kita sekarang, sering menyimpang dari dasar itu. Politik liberalisme sering kali dipakai jadi pedoman. Berbagai barang yg penting bagi penghidupan rakyat tidak menjadi monopoli pemerintah, tetapi dimonopoli oleh ORANG CINA!”

Hatta menyadari, bahkan sampai masa tahun 1980-an kondisi perekonomian Indonesia masih ada sisa-sisa peninggalan Belanda yang menjadikan Bangsa Eropa sebagai warna Negara kelas satu, Timur Asing sebagai kelas dua dan Pribumi kelas tiga.

Oleh karena itu perlu Affirmative Action untuk memperkuat ekonomi pribumi. Itulah sejatinya yang disebut demokrasi ekonomi! Dalam buku Catatan Pinggir, Goenawan Mohammad menulis tentang demokrasi. Ia menceritakan bahwa ada seorang anak di atas pohon dan ada anak yang di bawah pohon. Kemudian anak yang di atas pohon meludahi anak yang di bawah sambil berkata, “Silakan yangadil kamu ludahi saja saya. Itulah Demokrasi.” Katanya seperti itu. Apakah betul?

GOenawan ohammad membantahnya. Demokrasi bukan begitu. Posisi anak haru setara dan sejajar dulu barulah si anak bisa meludahi yang tadi di atas pohon. Itulah demokrasi! Perlu Affirmative Action dahulu!

Check Also

Marquez Kuasai Tes Hari Ke-2 Valencia

Findonews.com – Hari kedua tes di Sirkuit Ricardo Tormo menjadi milik Juara Dunia 2017 Marc …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *