Tuesday, 25 September 2018
Home / Berita Utama / Mengupayakan ‘Kematian yang Baik’ bagi Pasien Kanker

Mengupayakan ‘Kematian yang Baik’ bagi Pasien Kanker

Jakarta, Findonews.com – Kanker selalu dianggap sebagai momok yang menakutkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penyandang kanker bertambah 7 juta orang setiap tahunnya.

Di Indonesia, diperkirakan sebanyak 100 kasus baru muncul per 100 ribu penduduk. Artinya, dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, 240 ribu di antaranya merupakan penyandang kanker baru tiap tahun.

Ironisnya, hampir sebagian pasien ditemukan dalam kondisi stadium lanjut, sehingga angka harapan hidup belum seperti yang diharapkan. Banyak pasien kanker stadium lanjut yang tak bereaksi apa-apa meski sederet obat telah dimasukkan ke dalam tubuh.

Bagi pasien yang telah memasuki masa sekarat alias dying dan tidak mampu menerima pengobatan apapun, perawatan paliatif dirasa lebih pas.

Paliatif berasal dari kata “palliate” yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab. Perawatan paliatif adalah cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan.

Perawatan paliatif bisa dilakukan sejak vonis penyakit seperti kanker diberikan oleh dokter. Di sini, keluarga dan kerabat turut serta melakukan perawatan paliatif dibantu oleh tenaga medis.

“Saya yakin kalau di Indonesia sendiri, home care sudah tersedia di beberapa rumah sakit besar,” ujar Adityawati Ganggauswari dari Yayasan Kanker Indonesia (YLKI) dalam talkshow di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Meski terdengar seperti istilah baru, namun paliatif telah dikenal sejak lama. “(Perawatan paliatif) sudah didirikan pada akhir abad 19 dan awal abad 20, diprakarsai oleh berbagai Ordo Katolik di Perancis, Irlandia, Inggris, Australia dan Amerika Serikat,” jelas Adityawati.

Hal itu didorong oleh kesadaran akan kebutuhan perawatan yang lebih baik bagi pasien penyakit kronis. Kala itu, profesi medis dan sistem rumah sakit diserang oleh berbagai kritikan. Mereka dinilai kurang memberikan perhatian, mengesampingkan masalah psikologis, spiritual, dan keluarga, serta kurang terampil.

Dari situ, muncul gerakan ‘death and dying movement‘ atau ‘hospice movement‘ yang menjadi cikal bakal konsep perawatan paliatif.

Pada tahun 1967, perawatan paliatif resmi dibuka dan dinamakan St. Christopher’s Hospice di London oleh dr Cicely Saunders.

“WHO menyatakan bahwa perawatan paliatif itu praktikal dan mudah dilakukan. Selain kebutuhan medis, juga kebutuhan non-medis pasien dan keluarga,” kata Aditya.

Perawatan paliatif dapat mengurangi beban psikologis yang dirasakan pasien kanker. Tak cuma menekankan pada gejala fisik, tapi juga fokus terhadap aspek-aspek emosional, psikososial, serta spiritual agar kualitas hidup pasien semakin membaik.

Tidak seperti hospice yang hanya merawat pasien dengan masa hidup 3-6 bulan, perawatan paliatif bahkan bisa dilakukan sejak dokter memberikan vonisnya. Di sini, keluarga dan kerabat bisa turut serta merawat pasien dengan dibantu oleh tenaga medis.

Konsep perawatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa dying atau sekarat adalah hal yang normal dalam hidup. Pada kondisi itu, perawatan paliatif akan membuat pasien senyaman mungkin dengan rasa nyeri yang terkontrol ditambah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat yang mengelilinginya.

“Jadi selain hidup yang berkualitas, kami juga mengupayakan kematian yang berkualitas,” pungkas Aditya.

Check Also

29 September 00.00 WIB, Integrasi Tarif Tol JORR Mulai Berlaku

Jakarta, Findonews.com – Integrasi transaksi tol sebagai tahapan menuju transaksi tol menerus atau Multi Lane …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *