Tuesday, 26 September 2017
Home / Berita Utama / Fahri Hamzah: Terlalu Gampang Terima Argumen Orang, Bukan Cara Berfikir Generasi Muda

Fahri Hamzah: Terlalu Gampang Terima Argumen Orang, Bukan Cara Berfikir Generasi Muda

Fahri Hamzah: Terlalu Gampang Terima Argumen Orang, Bukan Cara Berfikir Generasi Muda
Foto: Findonews

 

Findonews, Makassar – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang juga Presidium Pusat Keluarga KAMMI hadir dalam acara “Deklarasi dan Pelantikan Presidium Wilayah Keluarga Alumni KAMMI Sulawesi Selatan” dengan tema “Membangun Indonesia dari Timur” acara ini juga dihadiri Walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto di Roemah Kopi, Jalan Sutan Alaudin kota Makassar, Kamis (14/4).

Pengurus Presidium KAMMI Sulsel periode 2016-2018 yang dilantik oleh Fahri yakni Dr. Yusran ST.MT, Ahmad Nurjauhari SE, Ahmad Abdi Amsiv S.Ip MS, Anwar Abugaza ST, Rahmat Hidayat Muhajir S.Ip, Maya Priyana ST dan Drg. Nurlaela.

Dalam sambutannya Fahri berpesan kepada kader KAMMI di Sulsel agar generasi muda terus semangat, karena masa depan bangsa ini ada di tangan generasi-generasi muda.

“Suatu bangsa harus punya tahapan di dalam cara berpikir generasinya. Berusia muda tapi kalau sedikit mendapat benturan tidak berani maju dan menyatakan kebenaran, terlalu gampang menerima argumen orang, tidak mengeksplorasi akal pikiran itu bukan cara berfikir generasi muda. Karena generasi muda adalah generasi yang datang membawa tesis baru. Suka atau tidak suka tesis baru ini lanskap seluruh perubahan politik yang mendasar di Indonesia,” orasi Fahri.

Fahri Hamzah yang dijuluki ‘singa parlemen’ melanjutkan bahwa generasi ini adalah generasi yang melawan otoriterianisme, maka generasi inilah yang mampu memimpin Indonesia dengan falsafah anti otoriter.

Ada yang menganggap kekuasaan semakin kuat maka semakin efektif, itu adalah tesis otoriter. Tesis generasi baru adalah jangan berikan kekuasaan kepada segelintir orang. Tapi berikan kekuatan itu kepada kelembagaan hingga semua lembaga bisa bekerja secara efektif menangani masalah-masalahnya sambil mereka saling melakukan kontrol. Yang diperlukan dalam generasi baru ini adalah memainkan orkestrasi, bukan ‘sigle player’ penentu segalanya.

Fahri juga menegaskan bahwa kekuasaan sekarang sudah menyebar, tidak ada kewenangan yang tiba-tiba ditarik ke pusat, itu cara berfikir yang salah.

“Otonomi ini sudah kita bagi ke daerah. Dulu tidak ada otonomi, lalu kita bikin otonomi tingkat I. Provinsi diberikan kewenangan lebih luas. Setelah itu datang reformasi, otonomi kita berikan tingkat 2, Kabupaten dan Walikota. Kita berikan banyak kewenangan untuk menentukan dan mengatur wilayahnya. Bahkan sekarang dengan UU No 6 tahun 2014 kita berikan otonomi sampai tingkat desa, hingga setiap kepala desa dapat mengatur wilayahnya dengan uang yang di transfer dari pusat kepada 72.000 desa di Indonesia. Pemimpin-pemimpin di pusat jangan lagi berfikir seolah olah yang tinggal di desa tidak bisa lebih pintar dari mereka. Kita transfer uang ke desa itu maksudnya supaya di desa ini muncul pemimpin-pemimpin baru yang hebat,” tutup Fahri. (rima/end)

Check Also

Andrea Migno gabung Aspar Moto3 Untuk Musim Depan

Findonews – Bergabungnya Dennis Foggis ke Sky Racing VR46 musim depan membuat posisi Andrea Migno …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *