Monday, 20 November 2017
Home / Berita Utama / Fahri Hamzah Lihat Pemimpin Yang Banyak Berbicara Akan Dianggap Kurang Baik Reputasinya

Fahri Hamzah Lihat Pemimpin Yang Banyak Berbicara Akan Dianggap Kurang Baik Reputasinya

Foto : Findonews

Findonews.com, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah melihat jika di Indonesia Pemimpin yang banyak bicara akan dianggap kurang baik reputasinya. Kemudian Fahri Hamzah membanding gaya kepemimpinan Era Presiden Joko Widodo dengan Presiden AS Donald Trump. Menurut Fahri Hamzah, Donald Trump setiap hari hanya bicara aja kerjanya. “Lihatlah di CNN dan Fox News. Presiden Amerika (Trump), tiap hari ngomong aja kerjanya. Di channel lokal presiden kita kerja aja kerjanya,” tulis Fahri di Akun Twitter Miliknya.

Lalu menurut Fahri kalau di Amerika itu, ada istilah yang menjadi istilah politik umum, Bully Pulpit. Itulah dasar pemimpin Amerika yang banyak bicara. “Kata Bully kita tahu artinya ‘menggertak’ bahkan sekarang banyak berkonotasi negatif. Kata pulpit artinya ‘mimbar’. Tapi Bully Pulpit sebagai konsep adalah penggunaan posisi publik yang berpengaruh untuk meyakinkan publik,” Lanjut Fahri.

Namun menurut Fahri kata Bully bermakna positif. Karena orang yang memiliki mimbar harus punya rasa kesadran untuk meyakinkan bangsanya. Kemudian Fahri menjelaskan kalau Dalam tradisi presidensialisme Amerika, ada namanya menteri urusan media / Press Secretary yang saban hari masuk TV dan bicara. Yang bertugas untuk melayani media sampai puas dan nggak ada pertanyaan lagi. Supaya utuh pesannya. “Jadi baik presiden maupun juru bicaranya sangat aktif bahkan agresif untuk bicara. Karena bicara adalah kewajiban utama,” Lanjut Tweet Fahri Hamzah.

Berbeda dengan di Amerika, Kalau Di Indonesia Orang Berbicara malah dipandang buruk reputasinya. “Dianggap nggak kerja alias ‘ngomong doang’. Lalu, presiden kita pun menganggap banyak bicara nggak bagus. Semboyannya kerja, kerja, kerja” Katanya.

Presiden lupa bahwa dalam kapasitas sebagai presiden dari negara berpenduduk besar dan tersebar, bicara itu utama. “Bangsa ini terbentuk karena pidato. Solidaritas sebagai bangsa kita dibangun melalui narasi yang mengalir dari lidah pemimpin,” Tegasnya.

Bahkan Bung Karno, menyebut dirinya sebagai ‘penyambung lidah rakyat Indonesia’. Dia juga yang mengeja kosa kata INDONESIA! “Pidato Sukarno bahkan menggelegar mengubah wajah dunia. Melahirkan kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia,” ujarnya.

Sekarang, penduduk Indonesia tambah banyak, memiliki wilayah yang luas tapi terancam berkurang oleh banyak alasan. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah karena setiap pagi kita bangun kita tidak melihat seseorang berbicara dengan lantang. “Setiap pagi kita bangun dengan berita tangkap tangan. Dan tak seorang pun bisa menjelaskan kenapa ini terus berjalan?” tambah Fahri

Fahri pun mengingatkan kembali bahwa suatu bangsa pemimpinnya lebih banyak diam dan membiarkan bangsanya bangun bagi dengan ketiadaan tujuan. “Alangkah malang nasib kita. Karena istana tidak memancarkan aura kebangkitan tapi kelemahan dan keputusasaan. Nanti begitu ada masalah, presiden memberi keterangan singkat, ‘jangan gaduh’ padahal masalah nggak selesai. Padahal, menunda masalah adalah merakit bom waktu. Wallahualam,” tutupnya melalui Akun Twitter miliknya.

Check Also

Marquez Kuasai Tes Hari Ke-2 Valencia

Findonews.com – Hari kedua tes di Sirkuit Ricardo Tormo menjadi milik Juara Dunia 2017 Marc …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *