Thursday, 20 September 2018
Home / Berita Utama / Dosa George Soros dan Tudingan ‘Biang Kerok’ Krisis Moneter

Dosa George Soros dan Tudingan ‘Biang Kerok’ Krisis Moneter

Jakarta, Findonews.com – Saat krisis moneter yang melanda Asia, tak terkecuali Indonesia, 20 tahun silam, George Soros dituding sebagai biang kerok. Nama investor kelahiran Hungaria tersebut pertama kali didengungkan oleh Mahathir Muhammad.

Mantan Perdana Menteri Malaysia itu menyebut perusahaan hedge fund Soros telah membuat nilai tukar sejumlah mata uang di Asia terombang-ambing.

“Saya mengatakan perdagangan mata uang itu hal yang tidak penting, tidak produktif, dan tidak bermoral,” ucap Mahathir 20 tahun lalu.


Kebetulan, salah satu perusahaan hedge fund yang baru melakukan operasi dalam jumlah besar di Asia kala itu adalah Quantum Fund, yang notabene dikelola oleh Soros.

Hedge fund secara umum adalah pengelolaan investasi kolektif global bagi nasabah kelas atas. Pengelola investasi itu akan mendapatkan biaya imbal jasa atas investasi yang dikelolanya berbasiskan kinerja.

 

Mengutip Business Insider, perusahaan melakukan spekulasi dengan membeli Thailand baht dalam jumlah besar setelah menerka kemungkinan devaluasi baht dalam jumlah yang besar.

Pada 1997, nilai mata uang baht masih disenilaikan (peg) dengan dolar AS, sehingga korporasi di negara gajah putih itu merasa aman berutang dengan denominasi dolar AS. Hanya saja, mata uang dolar AS semakin menguat di pertengahan pada 1990-an. Mau tak mau, menggerus transaksi berjalan dan Thailand tak sanggup lagi untuk melakukan peg atas dolar AS.

Soros mengendus bahwa devaluasi baht akan terjadi sangat parah. Dengan modal kurang dari US$1 miliar, ia pun berspekulasi atas baht. Dan, benar saja, tak berselang lama, kebijakan nilai tukar mata uang Thailand berubah dari skema mengambang tetap menjadi mengambang bebas.

Nilai baht terjun bebas 60 persen melawan dolar AS. Quantum Fund menorehkan cuan yang fantastis. Arus modal keluar melanda Thailand. Tak berselang lama, kondisi serupa menular ke beberapa negara Asia lainnya.

Inilah dalih awal yang menegaskan bahwa Soros harus bertanggung jawab atas kepanikan yang melanda Asia kala itu. Namun, alih-alih minta maaf, Soros malah membela diri.

“(Pernyataan Mahathir) tak sesuai, sehingga tak perlu perhatian lebih,” ujarnya kala itu. Ia menambahkan, Bank Sentral Thailand lah yang tidak memilki pengetahuan cukup soal hedge fund.

Sang Spekulan Ulung

Titel spekulan ulung patut disematkan kepada Soros. Sebelum bikin geger Asia, ia menekuk lutut Inggris melalui peristiwa Black Wednesday yang terjadi pada 1992. Buku bertajuk “Soros: The Life, Times, and Trading Secrets of the World’s Greatest Investor” yang dikarang Robert Slater menjelaskan secara gamblang salah satu kelalaian finansial Inggris selama menjadi anggota Uni Eropa itu.

Peristiwa Black Wednesday bermula saat dari sikap keengganan Inggris untuk bergabung ke dalam tahap pertama penciptaan mata uang tunggal Eropa bernama Exchange Rate Mechanism (ERM) pada 1979. Sebab, Inggris tak rela nilai mata uang poundsterling yang selama ini dikaitkan dengan emas harus berubah menjadi nilai mata uang masing-masing anggota Uni Eropa. Tentu saja nilai poundsterling bisa terjerembab jika mengikuti ERM.

Hanya saja, sejak 1987 Inggris mencoba mengaitkan poundsterling dengan deutsche mark, mata uang Jerman yang kala itu menjadi tolak ukur peg mata uang bagi negara-negara yang sepakat mengimplementasikan ERM. Dengan nilai 2,95 mark terhadap 1 poundsterling, maka biaya moneter untuk melakukan ERM kepada Inggris dianggap cukup tinggi. Apalagi, kala itu inflasi Inggris tercatat lebih tinggi ketimbang Jerman.

Dari sini, Soros mengendus kembali kemungkinan untuk mencari cuan dengan melakukan hedge fund. Apalagi, kala itu Inggris tengah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi dan punya tingkat suku bunga acuan yang sangat tinggi. Soros berkeyakinan Inggris akan menurunkan tingkat suku bunga yang bisa melemahkan mata uangnya agar ekonomi kembali pulih.

Berbekal tebak-tebak buah manggis, Soros akhirnya menjual poundsterling dengan nilai setara US$6 miliar dan membeli deutsche mark dengan nilai setara US$7 miliar.

Tak hanya itu, ia juga meminjam uang dari Bank of England sebesar 5 miliar poundstering untuk kemudian dikonversikan dengan deutsche mark dengan nilai tukar 1 poundsterling sama dengan 2,79 Deutsche mark.

Soros tetap menunggu. Berharap kebijakan Inggris untuk mendevaluasi mata uangnya benar-benar terjadi.

Tak tahan dengan tekanan inflasi, pada 16 September 1992 Inggris menaikkan suku bunga acuannya dua kali dalam sehari. Bahkan hingga mencapai 15 persen, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan kala itu.

Ibarat pisau bermata dua. Jika Inggris tetap bertahan pada suku bunga tinggi, selamanya kondisi ekonomi Inggris tak akan pulih.

Lambat laun, permintaan akan poundsterling kian berkurang lantaran kondisi makroekonomi yang tidak stabil. Aksi intervensi valuta asing bank sentral Inggris gagal. Nilai tukar poundsterling terhadap Deutsche mark sudah turun 3 persen dalam sehari.

Ini seperti tinggal menunggu waktu saja Inggris keluar dari kesepakatan ERM dan mengubah sistem peg mata uangnya.

Hari Rabu itu merupakan mimpi buruk bagi Inggris, namun angin surga bagi Soros. Benar saja, Inggris memutuskan untuk keluar dari ERM dan kebijakan mata uangnya kini menganut kondisi mengambang bebas. Nilai mata uangnya pun terjun hingga 2,65 Deustche Mark per 1 poundsterling.

Soros akan segera mengambil untung besar dari berspekulasi poundsterling. Tak terasa, keuntungan dari menerka-nerka poundsterling bikin kantong Soros US$2 miliar lebih tebal. Atas aksinya, kini Soros dikenang sebagai pria yang berhasil ‘membobol’ Bank of England.

Berbekal Ilmu Filosofi

Soros mengaku tak punya ilmu banyak ihwal segala macam peristiwa finansial yang terjadi di dunia. Ia hanya berpegang teguh pada kenyataan yang disebutnya tak bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmiah ekonomi yang ada selama ini.

Di dalam buku bertajuk “The New Paradigm of Financial Market” yang ditulisnya sendiri, ia mengaku senang menyelami kondisi yang ada di dunia ini dengan basis ilmu filosofi.

Salah satu filosofi yang dipegang teguh olehnya adalah buah pikiran dari Karl Popper yang tercantum dalam buku “The Open Society and its Enemies“.

Soros kagum dengan buah pemikiran Popper yang mengatakan bahwa gerakan Nazi Jerman dan Komunis memiliki kecenderungan yang sama, dimana dua gerakan ini masing-masing mengklaim sebagai pembawa kebenaran. Padahal sebenarnya, dua paham ini adalah sebuah perilaku yang bias dan terdistorsi dari kenyataan yang benar-benar terjadi.

Pandangan Popper itu kemudian menginspirasi Soros dalam kehidupan pribadinya. Ia menganggap, teori-teori ilmiah tidak selamanya valid. Tidak selamanya ilmu pengetahuan bisa memverifikasi segala kejadian yang ada di dunia ini. Ilmu pengetahuan, lanjutnya, hanyalah kumpulan hipotesis yang suatu saat bisa menjadi subjek falasi berpikir.

Dari kecintaannya akan filosofi, ia kemudian mempopulerkan istilah teori refleksitas, yakni anggapan di mana pelaku pasar tidak bergerak berdasarkan realita, namun persepsi mereka tentang realita itu sendiri.

Sebagai timbal baliknya, aksi tersebut justru akan mempengaruhi realita yang terjadi. Hal ini terjadi seperti di dalam kasus subprime mortgage saat krisis ekonomi 2008.

“Namun, untuk beberapa bagian, kesuksesan finansial saya yang merupakan berlandaskan paham filosofi juga merupakan sesuatu yang diperdebatkan,” jelas dia.

Atas dasar itu, apa yang selama ini ia lakukan merupakan hasil dari latihan membaca situasi selama bertahun-tahun. Bahkan terkadang, menajamkan intuisi dan membaca situasi bikin Soros semakin rapuh. Ia mengaku kerap sakit punggung dan gangguan psikosomatis akibat kebiasannya itu.

“Meski demikian, saya menjunjung pentingnya filosofi dan teori refleksitas bagi diri saya sendiri,” terang dia.

Butuh bertahun-tahun bagi Soros sebelum bisa mengguncangkan Inggris hingga Asia Tenggara. Ia mulai menekuni kariernya sebagai manajer investasi sejak tahun 1969 dengan membentuk perusahaan bernama Quantum Fund.

Perusahaannya digandrungi investor karena punya ciri khas tersendiri dalam memutar dana penanam modal. Ia hanya memainkan penjualan jangka pendek (short selling), menggunakan instrumen investasi yang kompleks, serta meminjam dana dalam jumlah yang tidak sedikit.

Tak heran, seluruh investor yang mau menanamkan modal di Quantum Fund harus menempatkan dana minimal US$1 juta.

Namun, meski syarat penempatan yang besar, imbal hasil dari Quantum Fund bukanlah sesuatu yang receh. Jika ada yang berinvestasi sebesar US$100 ribu pada tahun 1969 dan menginvestasikan kembali dividen yang diterima, maka sang investor bisa mendapat US$130 juta pada 1994.

Di samping itu, selembar saham di Quantum Fund senilai US$41,25 di tahun 1969 bisa bernilai US$21.543 di awal 1993.

Semua ini didapat dari intuisi Soros, seorang miliarder yang sempat miskin dan bahkan sempat bingung untuk bertahan hidup di London. Di kemudian hari, intuisi Soros akan sangat dibenci oleh pemimpin-pemimpin Asia Tenggara karena membawa awan kelam pada 1997-1998.

Dosa Soros di Indonesia

Mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli menilai Soros sebagai sosok yang bertanggungjawab dalam memukul Thailand dan menyebabkan krisisnya berdampak sistemik hingga ke Indonesia.

Namun demikian, Soros memang tidak bermaksud membuat Asia Tenggara terinjak-injak. Sebagai seorang spekulan, ia hanya melihat peluang keuntungan dari rontoknya nilai mata uang baht.

“Dalam perkembangannya, Soros melihat kondisi Thailand. Defisit transaksi berjalan semakin besar dan mata uangnya overvalued sampai 15 persen, lebih tinggi dari Indonesia. Maka, dihajarlah mata uang Thailand, Thailand kena krisis,” ungkap dia.

Tetapi menurut Rizal, ‘dosa’ Soros yang tidak bisa diampuni adalah semakin menjamurnya spekulan yang mengikuti jejaknya. Sebab, kisah sukses spekulan seperti Soros bisa menginspirasi pelaku pasar lainnya. Tak heran, krisis yang awalnya bermula di Thailand menyebar dengan cepat di negara-negara Asia lainnya.

Untuk Indonesia sendiri, penularan krisis moneter yang terjadi dari Thailand berlangsung sangat cepat. Hanya dalam dua bulan saja, nilai tukar rupiah terpapar habis-habisan akibat sentimen yang muncul dari negara tetangganya.

Pada Agustus 1997, Indonesia harus menanggalkan kebijakan nilai tukar mengambang terkendali menjadi mengambang bebas. Nilai tukar hancur lebur. Pertumbuhan ekonomi tak karuan.

“Ekonomi Indonesia hancur dari rata-rata 6 persen menjadi minus 13 persen karena fundamental lemah,” imbuh dia.

Ucapan Rizal tersebut diamini oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro. Menurutnya, perilaku para manajer investasi yang mengikuti Soros berkutat di hedge fund bikin letupan kecil di Thailand menjadi kebakaran hebat seantero Asia.

Kisah sukses Soros bikin ulah spekulasi manajer investasi kian menjadi-jadi. Mereka bisa jadi sasaran amukan jika krisis ekonomi tengah melanda suatu negara.

“Sekarang sudah banyak Soros-Soros lainnya, dan begitu pula yang terjadi pada 2008. Ketika ada ekses likuiditas global, mereka lakukan tanam modal sana-sini. Mereka dapat untung, tapi di sisi lain, aktivitas ekonomi bisa menjadi bubble,” tegas dia.

Direktur Riset Center of Reform On Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan kelakukan Soros dalam berspekulasi bisa jadi penyebab krisis moneter 1998 bikin panik. Namun, sebetulnya, hal penting bisa menangkal efek buruk spekulan seperti Soros adalah kondisi makroekonomi suatu negara itu sendiri.

“Kalau domestiknya kuat, harusnya konspirasi eksternal dampaknya tidak mendalam,” tutur Faisal. Sembari menyebut bahwa kondisi Indonesia saat itu memang tengah rapuh.

Kala itu, inflasi tahunan ada di kisaran 6 persen dan pertumbuhan ekonomi bahkan sempat melesat ke angka 7,8 persen.

Namun, salah satu faktor domestik yang bikin ekonomi Indonesia tak berdaya adalah kebijakan nilai tukar mata uang yang menganut sistem mengambang terkendali. Tekanan atas rupiah semakin tinggi lantaran dolar terus menguat, ditambah permintaan valas yang kian tak terkendali tidak diimbangi dengan suplainya.

Ibarat gunung berapi yang meletus, tekanan atas rupiah yang selama ini ditahan-tahan melalui kebijakan mengambang terkendali akhirnya meledak juga. Dalam kurun Juni 1997 hingga 1998, depresiasi rupiah terhadap dolar AS tercatat 614,8 persen.

“Kalau dilihat juga kan Indonesia adalah salah satu negara yang paling terpapar parah. Padahal, kondisi masing-masing negara dalam merespons krisis moneter juga berbeda-beda. Terlebih masa pemulihannya, Indonesia pun terbilang cukup lama. Jadi memang, kalau domestik kuat, harusnya tekanan di Indonesia tidak begitu kuat,” katanya.

Disadari atau tidak, tindakan spekulasi mata uang turut mencederai perekonomian Indonesia. Hingga kini, nama Soros masih digaungkan sebagai sosok yang bertanggungjawab atas runtuhnya ekonomi di sebuah kawasan yang dulu tersohor sebagai macan Asia.

Check Also

Fahri Hamzah : Expo DPR Peduli Huntara for NTB, Desak Pemerintah Segera Cairkan Dana Bencana Gempa Lombok

Jakarta, Findonews.com – Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), Fahri Hamzah mengatakan, acara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *