Saturday, 19 August 2017
Home / Berita Utama / CATATAN Aktivis KAMMI Mengkritisi Tulisan Sapto Waluyo “Dekonstruksi Fahri Hamzah”

CATATAN Aktivis KAMMI Mengkritisi Tulisan Sapto Waluyo “Dekonstruksi Fahri Hamzah”

IMG-20160103-WA0007

 

Oleh: Bambang Prayitno
Anggota Keluarga Alumni KAMMI. Opini atas nama pribadi

Saya membaca tulisan Sapto Waluyo yang berjudul “Dekonstruksi Fahri Hamzah”, yang dimuat di selasar dot com dan kabarpks dot com. (https://www.selasar.com/politik/dekonstruksi-fahri-hamzah-bagian-1 dan https://www.selasar.com/politik/dekonstruksi-fahri-hamzah-bagian-2)

Tulisan tersebut juga diedarkan secara massif dan terbuka lewat media sosial official partai. Bahkan dibumbuhi dengan kata-kata “harap disebarkan hingga struktur terkecil partai”.

Dalam kapasitas saya sebagai sesama anggota Keluarga Alumni KAMMI bersama Fahri Hamzah, dan juga sebagai orang yang simpati serta menaruh perhatian pada masa depan PKS (Partai Keadilan Sejahtera); maka saya tertarik untuk membaca, merenung-renung dan mencoba menganalisa serta membuat semacam catatan atas tulisan Sapto tersebut.

Semoga langkah saya ini menjadi semacam tradisi positif di kalangan aktivis partai, termasuk PKS; dimana tulisan (yang baik) dikritisi (juga) dengan tulisan (yang baik) pula. Dimana wacana tentang perbaikan menjadi kaya dengan berbagai imbuhan dan masukan.

Sependek ingatan saya, Sapto Waluyo sendiri memang merupakan tokoh yang cukup berperan dalam peristiwa Reformasi 1998. Sapto juga termasuk orang yang lama berkecimpung dalam dunia tulis-menulis dan sibuk menganalisa berbagai masalah sosial-politik Indonesia. “Expert” istilahnya. Disamping pernah beraktivitas sebagai wartawan, Sapto juga menjadi pendiri sekaligus pegiat beberapa LSM, seperti CIR (Center for Indonesian Reform) salah satunya. Ianya juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Artinya, kematangan dan kekayaan intelektual Sapto tidak diragukan publik.

Dan yang tak kalah menariknya, Sapto Waluyo adalah aktivis partai. Aktivis Partai Keadilan Sejahtera lebih tepatnya. Pada periode 2009, kalau tidak salah, Sapto Waluyo merupakan anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS. Dan pada tahun 2015 ini, ia didapuk menjadi petinggi partai yang mengurusi Perencanaan Dakwah. Sapto juga pernah menjadi Staf Khusus Menteri Sosial era SBY, Habib Salim Segaf Al-Jufri. Habib Salim sendiri sekarang menjabat menjadi Ketua Majelis Syuro PKS. Artinya; sedikit-banyak, apa yang disampaikan Sapto Waluyo pada tulisan “Dekonstruksi Fahri Hamzah” itu, mungkin saja ada tarikan-tarikan -kepentingan rezim- PKS yang sedang berkuasa dan pribadi Habib Salim.

(1) Maka, hal pertama yang saya kritisi dalam tulisan “Dekonstruksi Fahri Hamzah”, adalah background Sapto Waluyo dan posisi intelektual dimana ia berpijak. Dalam tulisan tersebut, Sapto Waluyo memberi predikat dirinya sebagai dosen, mantan jurnalis dan Direktur CIR. Saya membaca tulisan Sapto tersebut dan saya menyimpulkan bahwa predikat dosen, mantan jurnalis dan direktur LSM tersebut saya kira tidak cocok. Karena dengan telanjang sekali Sapto justru menggambarkan dirinya sebagai semacam “humas” atau “‘corong pembenar” keputusan DPP PKS atas pemecatan Fahri Hamzah.

Seharusnya Sapto mencantumkan jabatan partainya. Atau paling tidak menjelaskan posisi strukturalnya. Dengan keterusterangan posisi Sapto Waluyo sebagai bagian dari rezim partai, justru akan membuat posisi intelektual Sapto menjadi lebih terhormat. Karena lebih “gentle” dan tidak bersembunyi di balik tameng dosen dan mantan jurnalis untuk mengarahkan pandangan publik; bahwa seolah-olah tulisannya obyektif, padahal kenyataannya berpihak pada “oknum” DPTP PKS yang mengeluarkan surat pemecatan pada Fahri Hamzah.

(2) Hal kedua yang ingin saya kritisi adalah soal massifikasi penyebaran tulisan tersebut hingga ke seluruh struktur terkecil PKS. Yang berarti sampai ke struktur kelompok pengajian (liqo) yang dikelola kader-kader PKS. Dan itu diumumkan secara terbuka di media sosial official partai. Itu menjadi aksi resmi partai.

Saya sudah beberapa kali melihat aksi PKS yang serupa terkait kasus pemecatan Fahri Hamzah. Dan menurut saya, langkah PKS kali ini terlalu berlebihan. Saya tidak ingin turut campur dengan apa yang akan dilakukan PKS terkait kasus ini. Tapi publik yang membaca seruan untuk “menyebarkan tulisan hingga struktur terkecil” dengan dibumbuhi evaluasi daerah mana saja yang sudah menyebarkan dan mana yang belum, pasti banyak yang tertawa. Pikiran publik sebenarnya sederhana; kalau memang langkah pemecatan DPP PKS itu benar, maka buat apa terlalu bereaksi berlebihan dan terkesan “over protective” atas asupan informasi yang masuk ke kader.

Dan lagi, Fahri Hamzah saya kira bukan orang lain bagi PKS. Fahri dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan; bahwa ia adalah kader PKS yang sedang mencari keadilan atas kasus yang menimpa dirinya. Sangat sederhana pernyataannya. Saya kira, dengan aksi-aksi struktur yang protective dan massif atas kader partai, justru akan membuat kader PKS diliputi suasana psikologis yang tertekan dan terkungkung dalam pikiran dan ketakutan yang tidak berdasar. Pikirannya tidak merdeka, merasa takut melakukan sesuatu, atau takut untuk bersikap kritis dan berubah menjadi kader yang tidak kreatif. Saya kira, dalam jangka panjang, ini akan merugikan partai.

(3) Hal ketiga yang harus dibaca oleh publik adalah; adanya penggiringan kesan bahwa seolah-seolah Fahri ingin mencelakakan para Ustadz yang menjadi pimpinan DPTP Partai Keadilan Sejahtera. Padahal publik seperti saya salah satunya, termasuk yang meyakini akan adanya keindahan persaudaran dan cinta di seluruh anggota PKS; antara pimpinan dengan kadernya atau dengan sesama kader.

Fahri Hamzah yang dididik selama puluhan tahun tentang cinta dan persaudaraan itu pasti darah dan urat nadinya mendenyutkan nilai-nilai itu. Saya termasuk yang tertawa dengan penggiringan kesan seolah-olah Fahri Hamzah ingin mencelakakan guru-gurunya yang ia cintai. Saya yakin, tidak seperti itu sikap Fahri pada guru-gurunya. Keinginannya untuk mencari keadilan dan kekritisannya pada keputusan yang melibatkan dirinya saat ini seharusnya dimaknai saja sebagai hal yang positif; semua demi perbaikan yang konstruktif bagi partai. Harus dipisahkan nuansa personal dalam masalah lembaga.

(4) Hal keempat yang ingin saya kritisi adalah kesan bahwa Sapto seperti baru mengenal Fahri Hamzah. Tidak mengetahui pribadi, karakter, dan sifat-sifat Fahri Hamzah. Saya sempat bertanya kepada beberapa kawan sesama alumni KAMMI yang sezaman dengan Fahri Hamzah. Ternyata Sapto Waluyo dan Fahri Hamzah adalah sahabat lama yang sangat akrab. Sering sekali mengerjakan sesuatu bersama. Bahkan saat Fahri menjadi tokoh Reformasi yang menggerakkan mahasiswa di tahun 1998, Sapto termasuk penyokong utamanya.

Kekritisan Sapto pada Fahri Hamzah yang “seakan-akan meledak dan tertumpahkan” pada masalah ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi saya. Ada apa dengan persahabatan mereka. Apa mungkin Sapto Waluyo mendapatkan tekanan dari satu atau beberapa orang untuk menuliskan itu semua sehingga ada beberapa celah dalam tulisannya ?. Apakah posisi hatinya sedang tidak “happy” dan tidak menemukan “me time” sehingga kesannya jadi terburu-buru bahasanya ?. Entahlah. Yang jelas, perubahan sikap Sapto yang sekarang menjadi sangat kritis pada Fahri Hamzah, padahal mereka adalah sahabat lama itu, masih menjadi pertanyaan yang mengganjal di hati saya.

(5) Hal kelima yang juga tidak diketahui publik, adalah soal kebijakan partai dan rangkaian historis yang tidak bisa dipisahkan dari masa kini. Dimana di era pemerintahan sebelumnya, Fahri Hamzah memang leluasa mengkritik berbagai masalah pemerintah. Tapi pada saat itu, Fahri Hamzah merasa tenang karena mendapatkan garansi pimpinan partai (Hilmi Aminuddin dan Anis Matta). Dan sikap Ustadz Hilmi dan Ustadz Anis Matta melindungi Fahri Hamzah ini memang membuat Menteri Sosial zaman SBY (Habib Salim) dan tim nya (termasuk Sapto sebagai Staf Ahli Mensos) menjadi merasa salah tingkah. Kritik Fahri kepada SBY di masa lalu, sepertinya menjadi catatan yang disimpan lama sebagai bahan untuk mengevaluasi Fahri Hamzah di rezim partai sekarang.

(6) Hal keenam yang perlu juga dijelaskan kepada publik adalah, Sapto sebenarnya punya latar belakang kesibukan sebagai aktivis LSM yang salah satunya pernah menjadi pengurus Masyarakat Transparan Indonesia  (MTI) yang sangat pro pada apapun langkah KPK. Sementara PKS lewat kata-kata Fahri pada saat itu, memang sangat mengkritisi KPK yang terkesan menjadi alat kekuasaan, dan kini banyak orang mengamini kata Fahri.

Termasuk juga sewaktu kasus LHI (Luthfi Hasan Ishak) mencuat. Saya termasuk salah satu bagian masyarakat yang mencatat kejadian dan perisitiwa yang mengiringinya. Fahri Hamzah menjadi pembela PKS paling utama yang menyelematkan muka partai dengan segala konsekuensi yang ditanggungnya; terluka, berdarah, dicela. Fahri Hamzah dan Anis Matta adalah pahlawan PKS dalam kasus ini. Mereka berani secara terbuka melindungi partai dan berani menyatakan perlawanan atas “kedzaliman” KPK yang memenjarakan LHI tanpa bukti kerugian negara; hal yang menjadi kenyataan pada saat ini.

Dan saya kira, beberapa orang petinggi PKS yang menjadi pendukung KPK menjadi mati kutu dan hanya menjadi follower saja. Saya tidak membaca posisi keberpihakan Sapto Waluyo saat itu. Tapi, mengingat Sapto yang pernah menjadi aktivis MTI, mungkin saja Sapto menjadi pendukung fanatik KPK; termasuk dalam kasus LHI. Mungkin saja. Tapi mungkin saja Sapto lebih mendukung partai tapi tidak menampakkan dukungannya pada saat itu.

(7) Hal ketujuh yang ingin saya kritisi dari tulisan Sapto adalah; “drive wacana” bahwa seolah-olah dalam kasus ini, Fahri Hamzah melawan institusi PKS. Saya kira, ini pandangan yang salah kaprah.

Sejak awal saya membaca pernyataan Fahri Hamzah dimana-mana, tidak ada satupun pernyataan Fahri Hamzah yang menyatakan akan melawan institusi partai. Fahri Hamzah menyatakan akan melaporkan oknum di dalam PKS yang berlaku sewenang-wenang pada dirinya. Dan itu biasa dan lumrah saja. Wajar saja dalam negara hukum yang menjunjung tinggi kedaulatan hukum. Bukan tindakan jahat.

(8) Hal kedelapan yang ingin saya kritisi adalah adanya beberapa hal yang sengaja dikaburkan dalam tulisan Sapto Waluyo. Misalnya soal peristiwa yang diungkap oleh Fahri Hamzah akan adanya kemungkinan pribadi petinggi DPTP yang ditekan dan tidak memutuskan masalah ini dengan merdeka. Atau peristiwa beredarnya Surat Pemecatan di dua pekan sebelum keputusan resmi keluar. Hal-hal seperti itu perlu diungkap juga secara jernih agar seimbang.

Saya termasuk bagian dari masyarakat pendukung PKS yang bersyukur sekali bisa membaca rangkaian kronologis yang disampaikan DPP PKS lewat laman resminya. Saya juga termasuk yang mengapresiasi langkah Fahri Hamzah yang menjelaskan kronologi pemecatan versi dirinya. Dan ini tradisi yang baik dalam konteks transparansi dan keterbukaan informasi partai.

Oknum kader senior atau struktur partai yang melakukan pelarangan-pelarangan untuk membahas atau membaca tulisan Fahri justru memundurkan langkah maju ini. Karena, mau dilarang dengan cara apapun, kenyataannya, zaman sudah berubah. Arus informasi tidak lagi menjadi sesuatu yang mahal. Ia masuk ke rumah-rumah kader dan pendukung PKS. Dan bertalian dengan itu, kita dituntut untuk bersikap kritis atau seminimal-minimalnya bertanya tentang seluruh hal yang terjadi.

(9) Hal kesembilan yang ingin saya kritisi adalah adanya indikasi pencatutan nama orang dalam tulisan Sapto Waluyo yang menjadi semacam “bumbu legitimasi” keputusan PKS. Sapto menjelaskan bahwa Anis Matta, presiden partai sebelumnya, juga memberikan testimoni negatif tentang Fahri diluar pengadilan Majelis Tahkim partai.

Saya kira, kader partai dan publik tidak bisa dengan semudah itu percaya pada tulisan Sapto. Karena faktanya, hingga hari ini, memang tidak ada bukti otentik kata-kata Anis Matta yang tertuang. Tidak ada hitam di atas putih. Dan karena penasaran, saya kemudian mencari-cari apa saja kata-kata Anis Matta di rentang waktu sepanjang kasus ini. Saya membaca dua pesan Anis Matta di sebuah media sosial. Yang pertama adalah, bacalah Al-Qur’an dan tadabburi. Yang kedua adalah, persiapkan diri menuju Ramadhan. Itu saja.

Saya juga membaca dua (status) tulisan Anaway Mansyur istri Anis Matta di media sosial. Yang menyatakan dengan sangat gamblang bahwa suaminya dicatut-catut dalam masalah ini. Sebuah pernyataan yang mengandung pertanyaan publik. Ohya, dan tidak lupa pula, saya termasuk yang kaget dengan tuit Taufik Ridho di akun pribadinya atas kasus Fahri Hamzah, dimana Taufik Ridho menganjurkan kekritisan pada kader; sebuah pernyataan yang seolah-olah mengamini sikap Fahri Hamzah. Sekedar mengulang ingatan publik dan kader PKS, Taufik Ridho adalah Sekjen PKS yang diangkat bersama Sohibul Iman, yang mengundurkan diri seiring bergulirnya kasus Fahri Hamzah. Hal yang cukup mengganjal dan menjadi serenteng pertanyaan; ada apa dengan PKS era ini.

(10) Yang kesepuluh adalah soal tuduhan Sapto bahwa Fahri mengalami semacam “degradasi moral” dan terlihat watak aslinya (yang terkesan kemaruk dan mungkin berniat jahat pada partai ?). Sebuah penanda berupa “kemaruknya” Fahri terlekat dalam bukti dimana Fahri mau menuntut DPP PKS dengan tuntutan materiil sebesar 500 Milyar. Saya terus terang ketawa cukup lama membaca tulisan Sapto di poin ini. Bagaimana mungkin, seorang dengan posisi seperti Sapto Waluyo yang punya kedudukan tinggi di PKS, dan dengan demikian memiliki “kapasitas keshalihan” lebih dibandingkan kadernya, tidak melakukan cross-cek terlebih dahulu, kenapa Fahri menuntut kerugian materiil dengan jumlah yang “fantastis” tersebut.

Dengan kapasitas intelektual dan rentang panjang mengenal pribadi Fahri Hamzah dan bahu-membahu bersama dirinya membangun partai, masa segampang itu Sapto berpikir bahwa Fahri Hamzah kemudian akan menghancurkan “bangunan dakwah” yang ia rajut dengan seluruh keringatnya, dengan seluruh airmatanya, dengan seluruh cintanya? Saya kira, tuduhan Sapto Waluyo jadi terkesan mengedepankan sisi emosi dan prasangkanya saja.

Gara-gara tulisan Sapto soal tuntutan 500 Milyar ini saya sampai bertanya langsung ke Fahri Hamzah kenapa sampai muncul jumlah yang segitu. Dan jawaban spontan Fahri menunjukkan niat baik dan akhlak yang mulia yang masih melekat sebagaimana seorang aktivis dakwah dan partai Islam bersikap. Alasannya, kata Fahri Hamzah; memang yang ia gugat itu orang. Bukan partai. Kerugian yang ditanggungnya tidak bisa dihitung dengan uang. Tetapi pengadilan mensyaratkan adanya kerugian materiil. Sebab kalau tidak dicantumkan, nanti dianggap tidak ada kerugian. Padahal kerugian Fahri itu besar sekali.

Sewaktu saya tanya; mau dipakai untuk apa uang sebanyak itu kalau sampai menang. Jawabannya juga lurus dan jujur; jika peradilan ini sampai ujung dan Fahri Hamzah menang, maka uang itu akan dipakai untuk kepentingan dakwah partai. Ternyata; penyebutan jumlah tersebut memang untuk syarat saja dan uangnya juga tidak kemana-mana. Fahri Hamzah tidak akan mengambil sepeserpun uang itu jika akhirnya gugatan diterima.

Uangnya akan kembali digunakan untuk partai; hal yang lazim yang dilakukan oleh (kader) PKS juga. Saya terus terang jadi tenang dengan pernyataan Fahri Hamzah. Saya tidak tahu dengan kondisi hati Sapto Waluyo. Semoga sidang pembaca menjadi tenang setelah membaca kata-kata Fahri yang saya tulis ulang dari hasil cross-cek saya.

(11) Hal kesebelas yang ingin saya kritisi adalah peristiwa Fahri Hamzah dan KAMMI pada tahun 1998. Sapto Waluyo menjelaskan bahwa di tahun 1998, Fahri menjadi Ketua Umum KAMMI yang paling singkat. Hal itu terjadi, disebabkan karena karakter Fahri Hamzah.

Saya terus terang ketawa membaca penggiringan opini yang disampaikan Sapto Waluyo dimana Sapto ingin menjelaskan bahwa Fahri Hamzah memang “dari sananya” bandel dan susah diatur. Seolah-olah Sapto ingin menimpakan beban peristiwa masa lalu pada pribadi Fahri Hamzah an sich. Dengan pernyataan itu, saya jadi susah sendiri; agak sulit percaya akan kebesaran jiwa dan kepalangan hati seorang Sapto Waluyo.

Yang pertama, masa sih, orang sebesar Sapto Waluyo bisa disandera oleh perasaan masa lalu. Yang kedua, apakah ia tidak tahu, bahwa seluruh peristiwa politik dimanapun berada, ada anasir internal dan eksternal yang menyelubunginya. Apakah ia tidak tahu, bahwa dalam dinamika organisasi, ada faktor individual, tata aturan, relasi antar anggota dan komunikasi yang berkelindan ?. Saya kira, biasa saja dinamika organisasi yang terjadi pada KAMMI, sejak awal KAMMI berdiri hingga sekarang ini. Justru yang tidak sehat adalah “remote” dan intervensi pemangku kepentingan atas KAMMI yang terlalu jauh yang menyebabkan KAMMI jadi bergerak tidak luwes sebagaimana halnya organisasi gerakan mahasiswa dan kaum muda.

Dan diatas itu semua, Fahri Hamzah tetaplah pahlawan reformasi dan demokrasi Indonesia yang lahir dari rahim KAMMI. Apapun yang terjadi pada Fahri Hamzah di masa lalu dan sekarang ini; apapun kelemahan yang dimilikinya di sepanjang hidupnya, Fahri Hamzah adalah teladan bagi kaum muda pergerakan negeri ini. Sapto akan sia-sia jika ingin menggiring dan menjauhkan generasi baru dan anak-anak muda aktivis pergerakan berbagai organisasi dari Fahri Hamzah.

(12) Hal terakhir yang ingin saya kritisi; saya hanya ingin menanyakan kenapa Sapto Waluyo memungkas tulisan ‘Dekonstruksi Fahri Hamzah” dengan menyerukan kepada pembaca tulisannya untuk mewaspadai para “Demagog”. Istilah demagog/de·ma·gog/démagog sendiri berarti “penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan”. Apakah yang dimaksud demagog oleh Sapto itu Fahri Hamzah ?.

Jika yang dimaksud ‘demagog’ itu Fahri Hamzah, maka saya jadi bertanya; setelah persahabatan puluhan tahun itu berjalan dengan kenangan akan masa yang indah, masa Sapto Waluyo sampai tega sekali melabeli sahabat karibnya Fahri Hamzah dengan kata-kata itu? Mungkin Sapto Waluyo perlu juga diberi waktu untuk merenung tentang betapa agungnya arti persaudaraan dan persahabatan. Tapi semoga saja bukan Fahri Hamzah yang dimaksud oleh Sapto. Silahkan sidang pembaca menganalisa sendiri maksud kata-kata Sapto.

Saya merangkum seluruh kritik saya pada tulisan Sapto Waluyo dalam sebuah pesan singkat ke Sapto Waluyo; “Maaf sebelumnya, mas. Saya menyarankan mas Sapto untuk kalem. Tenang dan jangan terburu-buru. Semoga Mas Sapto sedang tidak diliputi emosi ketika menuliskan tulisan ‘Dekonstruksi Fahri Hamzah’. Karena ada beberapa lubang yang tak elok dalam tulisan tersebut”.

Demikianlah beberapa hal yang ingin saya kritisi. Sebuah kebahagiaan bagi saya, jika Sapto Waluyo -sebagai senior dengan segala teladan yang dimilikinya- mau membaca tulisan dan kritikan saya. Izinkan saya belajar banyak hal dari kasus Fahri Hamzah ini.

(4 Mei 2016)

Check Also

Densus Tipikor Diharap Mampu Berantas Korupsi

  DPR, Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan berharap, keberadaan Detasemen Khusus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *